Teori Ekonomi Islam [Absurd?]

Pemetaan ranah ilmu yang membahas bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya sesuai dengan syariat Islam tentulah sangat dibutuhkan. Pemetaan ini semakin penting ketika dunia akademisi modern terlihat menunjukan minatnya di dalam turut mengakomodasi ajaran Islam di dalam tata kelola ekonomi dunia. Sesuatu yang pernah berjaya sebelum sesuatu yang disebut-sebut ilmu modern itu sendiri lahir dan mapan seperti pada saat ini.

Sebagai akademisi yang turut berkutat di dalam pengembangan ilmu-ilmu ekonomi berbasis ajaran Islam, saya menilai masih terdapat kecanggungan ilmiah yang dijadikan kalangan akademisi Islam terkait ekonomi Islam ini. Lihat saja bagaimana alur kodifikasi dan pendekatan-pendekatan ilmiah yang dijadikan analisis di dalam mengungkap term-term Ekonomi Islam. Kita dapat melihat budaya absorpsi dan bahkan plagiasi terhadap teori barat yang sebenarnya sangat berbeda dengan teori-teori dan pendekatan dalam Islam.

Sumber Daya Insani Ekonom yang Ringkih
Ketika penulis masih mendalami ilmu-ilmu Ekonomi Islam di salah satu Perguruan Tinggi Islam terkenal di kota Yogyakarta, gejala absurditas ini sebenarnya mulai tampak. Hal ini ditandai dengan minimnya pengajar yang memiliki pengetahuan dunia dan akhirat (baca: Islam dan tradisi modern) yang komprehensif. Anda dapat bayangkan ketika seorang profesor yang mengajarkan tafsir Al-Qur’an namun masih terbata-bata dan tidak ‘pede’ ketika mengimlak ayat-ayat Al-Qur’an di white board. Namun demikian, inilah realita.

Penulis melalui tulisan ini merekomendasikan pendidikan Pesantren dan Universitas dipadukan dalam satu kalangan ilmiah. Ini merupakan terobosan penting sebenarnya bagi pemerintah untuk menciptakan para akademisi muslim yang paripurna tanpa harus membebek pada silang pendapat argumen-argumen para pakar dari luar negeri yang tidak selalu sesuai untuk diaplikasikan pemikirannya di Indonesia yang khas.

[bersambung..]

Syiiran di Langgar: Telaah dan Refleksi

Wacana Globalisasi yang disebar cepat melalui media komunikasi cetak dan elektronik, yang begitu cepat melanda pemikiran masyarakat di dunia ketiga — termasuk di Indonesia — telah menghegemoni nilai-nilai kebenaran atas nama universalisme. Hegemoni ciptaan Kapitalisme Global itu tidak saja memonopoli aspek ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan ideologi melainkan mencakup pula aspek sosial, budaya, seni, dan sastra yang ditandai oleh tergesernya berbagai unsur budaya tradisional beserta nilai-nilainya, digantikan produk budaya global, bahkan dalam hal pembentukan wacana dan pembacaan jati diri.

Fakta tentang hegemoni wacana global ini, setidaknya terlihat pada perubahan sikap, perilaku dan citarasa warga bangsa Indonesia terhadap norma-norma, ide-ide, gagasan-gagasan, konsep-konsep, dan nilai-nilai warisan leluhur yang adiluhung. Dalam kehidupan sehari-hari, misal, istilah-istilah baku yang secara tradisional digunakan dalam hubungan keluarga dan kerabat seperti “ibu, bapak, paman, bibi, embah kakung, eyang putri” telah berubah menjadi “mama, papa, daddy, mummy, om, tante, opa, oma” yang dianggap lebih superior dan modern. Lalu nama-nama tradisional seperti “Bambang, Joko, Supardi, Suparman, Rahayu, Endang, Poniti, Painem, Wagisah, Leginem” dengan cepat berganti menjadi “Farel, Marvel, Johny, Armando, Adelia, Christina, Ceilla, Cornelia.” Kebiasaan anak untuk bersalaman dan mencium tangan orang tua diganti tradisi global “cipika-cipiki” (cium pipi kanan cium pipi kiri).
Continue Reading

Ghozw al-Fiqr: Upaya Melerai Pertikaian Ummat.

Para pengikut ulama Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qoyyim Al Jauziah, Muhammad bin Abdul Wahhab adalah korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Begitu juga kaum Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) adalah korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi. Berdasarkan analisa, empat gerakan yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi.

1. Paham anti mazhab, umat muslim diarahkan untuk tidak lagi mentaati pimpinan ijtihad atau imam mujtahid alias Imam Mazhab
2. Pemahaman secara ilmiah, umat muslim diarahkan untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan akal pikiran masing-masing dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll
3. Paham anti tasawwuf untuk merusak akhlak kaum muslim karena tasawuf adalah tentang Ihsan atau jalan menuju muslim yang Ihsan
4. Paham Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme (SEPILIS) disusupkan kepada umat muslim yang mengikuti pendidikan di “barat” .

Contoh bukti korban ghazwul fikri adalah adanya yang memahami ayat-ayat mutasyabihat secara harfiah / dzahir atau memahami dengan metodologi “terjemahkan saja” hanya memandang dari sudut bahasa (lughat) dan istilah (terminologis) namun kurang memperhatikan nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz, dll. Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.” Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.” Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi)
Continue Reading

PANDUAN PENYUSUNAN TUGAS INDIVIDUAL TENGAH SEMESTER [UTS] MAKROEKONOMI 2011

Kepada mahasiswa-mahasiswi peserta perkuliahan Makroekonomi Islam semester V Stain Purwokerto tahun 2011 berikut beberapa pilihan tema dan ketentuan penyusunan tugas makalah terstruktur UTS kuliah makroekonomi Islam semester lima.

Pilihan Tema Tulisan:
1. [Konsep] Pemikiran Makroekonomi Islam Menurut Para Tokoh.
2. Analisa Kondisi Makroekonomi Indonesia Kurun 2005-2010.
3. Instrumen Makroekonomi Menurut Konsep Islam.
4. Tokoh-Tokoh Ekonomi Islam Kontemporer di Luar Negeri.
5. Ambiguitas Makroekonomi konvensional dan Islam

Ketentuan Penulisan:
1. Di tulis pada kertas ukuran 4A ukuran spasi 1,5 dengan jumlah ketebalan minimal 10 lembar, tanpa sampul namun langsung pada substansi pembahasan makalah;
2. Karya orisinil mahasiswa (bukan copy-paste atau nukilan penuh), namun diperkenankan menginterprestasikan pendapat-pendapat yang sedang berkembang ataupun yang telah mapan;
3. Soft tulisan dikirimkan ke email sr_indonesia@yahoo.co.id dan hardnya dikumpulkan sewaktu Ujian Tengah Semester berlangsung;
last one lecturing.
Sistematika Penulisan:
1. Pendahuluan
2. Pengertian
3. Jenis-jenis [komponen ulasan tulisan]
4. Penjelasan dan Temuan
5. Kesimpulan
6. Referensi

Tulisan-Tulisan Ilmiah [terkait] Ekonomi Islam

Berikut beberapa tulisan yang membahas mengenai Ekonomi Islam dan telaah derivatifnya, semoga nantinya bermanfaat:

Tesis dan Desertasi:

Jurnal:

Makalah:

1. Kejahatan Perbankan dan Antisipasinya [klik disini]
Slide Presentasi:
1. Konsep dan Problem di dalam Makroekonmi Islami [klik disini]

2. Analisa Sektor-Sektor Makroekonomi Islam [klik disini]

3. Ruang Lingkup dan Metode Makroekonomi Islam [klik disini]

4. Kebijakan Moneter dalam Makroekonomi Islam [klik disini]

5. Kebijakan Fiskal dalam Makroekonomi Islam [klik disini]

Menulis itu.. Sulit !

Menulis itu sulit, itu saja. Mungkin kau akan membantah. Bertanya. Menggugat atau apalah, tapi judul di atas itu benar-benar serius. Aku sadar betul ketika menulisnya. Semuanya berangkat dari keseriusan dan kesungguhan.

Mengelola Ekonomi Haji

Krisis keuangan global yang mulai berimbas di negara kita, memaksa bangsa ini untuk waspada karena tidak mustahil menjadi tsunami ekonomi yang memorak-porandakan ekonomi nasional kita dan memberi dampak negatif bagi kehidupan rakyat Indonesia. Untuk itu, sangat penting bangsa ini menyiapkan diri supaya bisa survive di tengah krisis. Salah satu sikap penting yang perlu diambil ialah mencari dan menemukan potensi yang dimiliki bangsa ini supaya bisa dimanfaatkan dan dijadikan sebagai penyangga dan motor penggerak pengembangan ekonomi di tengah krisis. Menyambut kepulangan jamaah haji di Tanah Air yang selesai melaksanakan ibadah haji, kita ingin melihat sisi lain dari ibadah haji yang setiap tahun dilakukan umat Islam.

Tun Musa Hutam, mantan wakil perdana menteri Malaysia, dalam pertemuan Eminent Persons Group (EPG) Indonesia-Malaysia di Jakarta beberapa waktu mengemukakan besarnya potensi dana haji yang bisa dikelola untuk meningkatkan ekonomi. Malaysia melalui Lembaga Tabung Haji telah berhasil melakukan hal itu dan memutarnya ke dalam berbagai sektor riil yang berperan besar dalam menggerakkan dan memajukan ekonomi.
Continue Reading