Arsip untuk Oktober, 2008

h1

Blue Print Rimbo Bujang

27 Oktober 2008
h1

SMS di malam buta..

22 Oktober 2008

……Robi’, nur yanti & zaeni kuSMS tadi malam coba menawarkan mereka mampir ke blogku ini. sebenarnya bukan hanya mereka saja tapi seluruh santri dan alumni Pondok Pesantren Al Mubarok Malang kuundang kemari. bagi yang memungkinkan dapat langsung mengirim e-mail ke e-mailku di sr_indonesia@yahoo.co.id

bagi yang membutuhkan informasi seputar dunia ekonomi, curhat ataupun beasiswa S1 dan S2 juga bisa dituang kemari atau ke e-mailku. kutunggu kedatanganmu semua.. ingat pesen Pak Yai Read the rest of this entry ?

h1

Gus Miek; Seraut Wajah Kerinduan

22 Oktober 2008

 

 

 

 

N

ama itu kudengar tak lama semenjak aku bersila di Pesantren itu. Gus Miek,  pada awalnya hanya kisah-kisah penuh mistik yang dilekatkan teman-teman santri pada sosok beliau kala itu, pada malam-malam dimana kami berhalaqoh mengelilingi segelas kopi dan obrolan yang tak mengenal tepian. Malam-malam santri yang diarungi rutinitas yang selalu kurindui sampai kusendiri dikota Yogyakarta ini.

 

Dzikrul Ghofilin yang digelar pada setiap jelang malam Jum’at sedikit demi sedikit mulai menghantarkanku pada hal yang berbeda. Dari majelis dzikir itu aku semakin mengenal pemuda asa desa Ploso Mojo Kediri itu. Perjuangannya yang tak mengenal akhir, keagungan pribadi yang senantiasa menggetarkan pintu-pintu langit dan keteladanan yang mengharukan bagi setiap para pencari Tuhan. Read the rest of this entry ?

h1

Potret Santri Al-Mubarok Malang

22 Oktober 2008

 

P

ondok Pesantren Al-Mubarok Malang Jawa Timur terletak di tepi kota Malang yang sejuk, tepatnya berada dibilangan jalan Joyo Mulyo Nomor 340 Merjosari Malang. Kusematkan tulisan ini pada blogku karena beberapa hal; pertama, sebagai wujud kerinduanku pada semua wajah yang telah menghiasi perjalanan ilmuku. Kedua, sebagai wujud kangenku pada sosok-sosok tengil santri Al-Mubarok; Ismail Marzuki Setiung, Zaeni Munir Lampung dan Aminudin Sanyo (maksudku Tlogo Blitar…he..he..he..).

Sorry co.. Read the rest of this entry ?

h1

Rimbo Bujang; Dahulu, Kini & ….

20 Oktober 2008

Harga karet dan kelapa sawit terjun bebas saudara, ini berarti musim paceklik sudah di depan mata. Ketiadaan perlindungan petani terhadap para tengkulak menjadi salah satu faktor utama hilangnya daya tawar petani terhadap kesulitan yang dihadapinya. Bagi para mahasiswa Rimbo Bujang di manapun berada maka ini waktunya untuk lebih mengetatkan ikat pinggangnya, melasi bapak ibune. Read the rest of this entry ?

h1

Bisikan Bumi Putera

8 Oktober 2008

Bumi Putera. Kusebut demikian para generasi pendiri dan pengembang tanah Rimbo Bujang. Selama Blog ini didirikan di atas kesederhanaan, sejumlah kalangan mengharapkan sejumlah tampilan mutakhir mengenai Rimbo Bujang Tercinta. InsyaAlloh pada edisi ke depan developer akan menampilkan sejumlah foto-foto pembangunan Rimbo Bujang yang sangat pesat; terminal Rimbo Bujang, Ruko yang mulai mengepung Mapolsek Rimbo Bujang dan sekolah-sekolah di kecamatan yang terlihat mulai ’sesak nafas’ akibat himpitan tubuh-tubuh tambun kapitalisme. baiklah.. selamat Hari Raya Idul Fitri 149 H dan Selamat Menyimak. kontribusi saudara sangat kami harapkan adanya.

Java Spirits

Sugeng Riyadi, SE

h1

NU dalam Kompetisi Dakwah Islamiyyah

8 Oktober 2008

 

 

Sugeng Riyadi SE

; Alumni Pondok Pesantren Al-Mubarok Malang, merupakan aktivis GP Anshor yang sedang menjalani studi pada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sejarah Indonesia telah mencatat kuantitas jama’ah Nahdhatul Ulama sebagai organisasi massa Islam dengan jumlah terbesar di negara republik ini. Namun penelitian ini rasanya patut kita rumuskan lagi, setidaknya kita takar kembali. Mengapa ini menjadi penting untuk dilakukan? Ada dua alasan mendasar yang melatarbelakangi pertanyaan ini. Pertama, penyataan di atas tersebut dilakukan pada masa sebelum reformasi. Kedua, sebagai upaya intropeksi kejama’ahan (baca: NU sebagai organisasi) agar tidak terlena oleh pernyataan-pernyataan kadaluwarsa guna membuai integritas warganya.

 

Bila diperhatikan, dakwah agama Islam dewasa ini dapat dipetakan ke dalam tiga arus besar perjuangan. Pertama, organisasi Islam puritan yang sangat menonjolkan simbol-simbol Islam di dalam misi dakwahnya. Organisasi-organisasi ini mencoba menawarkan suasana sejarah kejayaan Islam pada abad-abad yang lampau dan tercermin dengan dakwah demi pendirian negara Islam, adopsi budaya Timur Tengah dan tema-tema simbolik lainnya sebagai wujud kaffahnya memeluk agama Islam. Organisasi ini bukan saja membidik awam kebanyakan di dalam upaya merekrut anggota, namun juga menjadikan para mahasiswa yang minim pemahamannya tentang Islam sebagai wahana pengkaderannya. Dan pada kenyataannya golongan Islam puritan ini dengan menempatkan tema-tema di atas, ternyata mendapatkan simpatisan yang signifikan di dalam meraih massa. Hal ini tercover dengan melambungnya simpatisan salah satu partai politik yang menjadi motor dakwah organisasi puritan ini.

 

Mainstream ke dua adalah mulai memasyarakatnya organisasi-organisasi dengan corak ajakan dakwah dengan misi liberal. Maksudnya adalah para simpatisan yang tergabung di dalam organisasi dan lembaga-lembaga ini ditanamkan di dalam akar pemikirannya tentang kebebasan berfikir dan ber-Islam. Anehnya (kalau boleh disebut demikian), dakwah Islam liberal ini justru “laku” dikalangan para profesional dengan tingkat pendidikan yang di atas rata-rata. Terdapat gap lebar antara model dakwah ini dengan model dakwah yang pertama di atas. Puncaknya adalah ketika terjadi kontak fisik di Monas pertengahan tahun 2008 ini, hingga kini permasalahan inipun seolah menjadi bara di dalam sekam sebagai akibat status quo-nya fungsi negara di dalam menangani kasus ini. Yang menjadi ironis adalah memuncaknya seteru kedua kelompok pemikiran ini, bahkan hingga terlibat saling klaim kafir yang kemudian diikuti perang peradilan antara satu dengan lainnya.

 

Mainstream yang terakhir sebagai “ladang” ummat, adalah organisasi Islam kemasyarakatan “konvensional” yang telah mapan sebelumnya. Tunjuk hidung saja, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Nahdhatul Ulama (NU) sendiri merupakan ormas yang sejak awal pendiriannya oleh para pendahulunya telah mewarisi jutaan simpatisan sebagai suatu jama’ah besar. Tidak berbeda dengan Muhammadiyah, warga NU merupakan “ladang” bagi kedua mainstream di atas guna mendulang masa simpatisannya. Dalam hal ini adalah para generasi mudanya, fasilitas kultural religiusnya (masjid) bahkan hingga unit-unit dakwah yang dimilikinya (partai politik, lembaga ekonomi dan lembaga pendidikan). Dan bukan rahasia lagi, ditengah kecambuk kompetisi dakwah tersebut, mainstream yang terakhir inipun di dalamnyapun terjadi “perang dakwah” antar sesama mubalighnya.

 

Secara interen, seyogyanya NU dan sayap-sayap perjuangannya memaknai fenomena di atas sebagai suatu tugas besar yang membutuhkan tanggungjawab, manajerial dan kekompakan yang tinggi. Ungkapan keprihatinan tentu saja telah menjadi pendengaran umum, bayangkan saja bahwa telah jamak diperkotaan yang menyandang pusat studi para generasi muda NU (utamanya para alumni pesantren) yang menjalani proses kuliah ditarik ke dalam pemikiran ataupun organisasi puritan dan liberal. Sementara dipedesaan kuantitas jama’ahpun patut dipertanyakan dengan beralih tangannya kepengurusan masjid kepada organisasi agama Islam lainnya, bayangkan tentang kenyataan sunyinya kebanyakan masjid dari gumam dzikir. Sudut pandang ini tentu sudah waktunya disikapi dengan lebih nyata. Memberikan perhatian yang lebih kepada organisasi pemuda NU (Anshor, IPNU, IPPNU, Fatayat dan PMII) tentu suatu keharusan dengan tingkat realisir yang semakin urgent.

 

Dalam masalah ini, setidaknya dari analisa penulis bahwa perlu diusahakan untuk setiap perguruan tinggi yang ada di penjuru negara Indonesia diselenggarakan sayap-sayap dakwah NU. Namun, masalah laten yang timbul kemudian adalah persoalan pendanaan organisasi dan pembimbing yang kemudian diserahi mengurusi sayap-sayap dakwah tersebut. Sebagai suatu korektif solutif adalah pembenahan unit-unit pendanaan NU dengan efisiensi dan profesionalitas lembaga perekonomian NU seperti BMT dan kontribusi kader-kader NU pada berbagai jabatan politik yang ada. Sementara guna menjawab permasalahan pembimbing, sudah selayaknya “menikahkan” kembali pesantren-pesantren yang terdapat pada sentra-sentra studi yang ada dengan dengan berbagai sayap-sayap perjuangan NU. Selama ini terkesan organisasi-organisasi underbound NU terlalu mandiri secara sosio kultural-edukatif dengan pesantren meski berada pada medan juang yang sama.

 

Alhasil, semoga dengan sekelumit realitas di atas seluruh warga NU (utamanya struktural) memberikan respek yang lebih pada fenomena dakwah empirik yang ada. Utamanya nasib kader-kader yang ada, laksana berpacu dengan waktu maka mata rantai perjuangan NU merupakan jihad yang fardu ‘ain untuk diperjuangkan. Menurut hemat penulis, para Ulama dan Mubaligh sebagai penuntun umat selayaknya merumuskan kembali praksis metodologis yang akan diaplikasikan pada masyarakat. Menumbuhkan rasa bangga pada NU dengan prestasi kekinian merupakan tugas besar bagi struktural yang ada, dan sudah saatnya warga NU tidak hanya dilenakan oleh sejarah gemilang para Ulama terdahulu. Selain merumuskan kembali pola dakwah kotemporer, NU dan warganya juga dituntut membenahi lembaga-lembaga pilar organisasi yang ada seperti Lembaga Ekonomi sebagai sumber pendanaan orgaisatoris dan materi-materi progresif pengkaderan bagi para warga NU pemula. Wallahu ‘alam bis showab.