Tak Berkategori

RELASI ALLAH SWT, MANUSIA DAN ALAM SEMESTA


Oleh:
Sugeng Riyadi Syamsudien, SE, M.S.I

Pendahuluan
Tujuan pembahasan materi ini adalah agar para akademisi dapat mendeskripsikan dan memahami tentang hakikat relasi Allah SWT, manusia dan alam semesta. Bila pada praksis sebelumnya telah dibahas hubungan triangulasi ini dengan pendekatan teologi traseden. Maka pada ruang materi ini akan cenderung menggunakan pendekatan sosio traseden. Maksudnya, hubungan ini akan lebih melihat pada fungsi dari masing-masing subyek relasi tersebut yang berangkat dari ihwal penciptaan manusia, amanah yang diembannya serta hal-hal integral yang terkait dengannya.

Berangkat dari pemikiran di atas, maka hubungan tiga arah tersebut akan memuat fungsi dari masing-masing eksistensi menuju pada suatu ekosistemik yang holistik. Di sini eksistensi manusia dengan potensi kasbnya akan menjadi tema sentral sebagai “subyek aktif (penyebab)” terhadap Allah SWT dan alam semesta sebagai akibat. Tentu, sekali lagi term ini berangkat dari pendekatan sosio traseden. Manusia merupakan makhluk istimewa dan unik, yang dengan bakatnya tersebut ras ini diberi kebebasan bertindak, namun di lain pihak Allah SWT telah memberikan konsekuensi-konsekuensi yang jelas sebagai akibat (balasan) atas segala perbuatan ras manusia tersebut.
Terkait dengan praksis pada pembahasan sebelumnya, maka pada ruang pembahasan kali ini relasi antara Allah SWT, ras manusia dan alam setidaknya akan dipetakan kepada tiga konsep penting. Pertama, konsep tentang manusia sebagai Khalifah Allah SWT di muka bumi. Kedua, konsep tentang Ibadah. Ketiga, konsep mengenai nubuwwah dan risalah. Ketiga konsep di atas merupakan mekanisme sistemik di dalam ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan makna keberadaan ras manusia di dunia ini.

A. KONSEP خلفة الله فى الأرضى
Istilah Khalifatullah fi al-ardh secara harfiah memiliki sejumlah tafsir pemaknaan. Pertama, yang populer istilah khalifatullah berarti delegasi dan wakil Allah SWT di muka bumi. Kepatuhan alam semesta kepada kepentingan manusia.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌُ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُفِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءْ وَنَحْنَ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي اَعْلَمُ مَالَاتَعْلَمُوْنَ
Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Rabb berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah [2]:30)

Sementara kedua, istilah khalifatullah berarti penguasa yang menggantikan ras makhluk Allah SWT (yang lain) di muka bumi. Jadi khalifah dalam konsep ini bermakna dua, sebagai wakil/utusan dan atau sebagai pengganti peradaban suatu ras yang telah eksis sebelumnya.

وَعَدَالله ُالَّذِيْنَ اَمَنُوْامِنْكُمْ وَعَمِلُوْاالصّٰلِحٰتِ لَتَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan mengkhalifahkan mereka di muka bumi, sebagaimana Dia telah mengkhalifahkan bangsa sebelum mereka..”. (QS. An-Nuur [24]: 55).

قَالَ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يَهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِى الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ
“..Musa menjawab: ‘Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya)’…”. (QS. Al-A’raaf [7]: 129).

B. KONSEP عبادة
Ibadah merupakan bahasa serapan dari Bahasa Arab ‘abada yang artinya hamba. Sementara ibadah sendiri berarti suatu penghambaan dan kebaktian seorang mahluk kepada Sang Penciptanya. Ibadah tidak dapat dimaknai hanya dengan shalat saja, namun cakupannya sangat kompleks hingga seluruh aspek kehidupan manusia.

Secara umum, ritus ibadah di dalam ajaran Islam di bagi menjadi dua katagori, yaitu:
1. Ibadah Mahdhah, yaitu suatu ritus ibadah seorang Muslim langsung kepada Allah SWT. Bentuk ibadah ini antara lain seperti shalat, dzikir, puasa dan haji. Artinya adalah bahwa ibadah ini merupakan hubungan vertikal antara seorang hamba kepada Allah SWT.
2. Ibadah Ghairu al-Mahdhah, yaitu suatu bentuk ritus ibadah (penghambaan kepada Allah SWT) kepada Allah SWT dengan perantara makhlukNya. Ibadah ini dapat berupa muamalah (sosial), munakahat (pernikahan), membangun tempat ibadah dan pengajian dan lain-lainnya. Ibadah ghaira al-mahdhah ini meski bersifat kepada sesama (altruistik) namun orientasi dan tujuannya tetaplah merupakan suatu bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Dalam hal ini niat seseorang memegang peranan yang sangat vital dan menentukan.
Pertanyaan mendasar dalam ranah ibadah adalah mengapa ibadah ini kemudian menjadi penting dan harus menjadi semangat di dalam hidup seorang hamba. Maka, dari jawaban tersebut nantinya akan terungkap hikmah-hikmah penghambaan seorang makhluk yang ternyata adalah kembali kepada kebaikan nasib sang abid tersebut.
Konsep ini berangkat dari pemahaman tauhid bahwa Allah SWT sebagai Tuhan sama sekali tidak membutuhkan ibadah para makhluknya. Artinya adalah bahwa tanpa penghambaan makhluknya sekalipun maka Allah SWT tetap akan berpredikat sebagai Tuhan semesta alam. Tentu ini menjadi semakin menarik guna di perdalam wilayah kajiannya.

C. Konsep tentang Nubuwwah dan Risalah.
Kenabian (profetik) menempati posisi strategis dalam ajaran agama. Dari para nabi dan Rasul inilah kemudian ajaran-ajaran samawi dapat diterima oleh umat manusia. Tujuan diutusnya para nabi dan Rasul ini adalah misi suci penyebaran rahmat dan karunia serta berita gembira bagi umat manusia yang mengikutinya dan berbuat baik maka akan mendapatkan pahala (balasan berupa kenikmatan-kenikmatan langsung dari Allah SWT). Sebaliknya para utusan ini juga membawa berita ancaman bagi para manusia yang gemar berbuat dosa dengan balasan siksa yang sangat menyakitkan dan bersifat abadi.
Nabi adalah manusia yang diberi wahyu syara’, sekalipun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia secara umum. Bila para nabi diperintahkan untuk mendakwahkan ajarannya secara umum maka ia akan menyandang predikat Rasul selain status kenabiannya. Adapun setiap nabi dan Rasul haruslah memiliki sifat-sifat kenabian sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.

Jumlah yang wajib diketahui dari para nabi sekaligus yang menjadi Rasul bagi umat Islam adalah 25 orang, hal ini telah dipaparkan di atas. Sedangkan nabi sendiri jumlahnya menurut jumhur Ulama adalah 114 orang, namun hal ini tidak wajib untuk diketahui oleh seluruh umat Islam. Nabi yang tidak termasuk Rasul salah satunya adalah Nabi Khidir a.s, Nabi Syits a.s dan lain-lainnya.

Dalam perjalanan dakwahnya para Rasul tersebut juga terdapat lima Rasul istimewa yang disebut dengan Ulul Azmi, yaitu para Rasul yang memiliki tingkat ketabahan luar biasa dari ujian dan cobaan berat yang diberikan Allah SWT. Ujian ini meliputi kehilangan atau penentangan anggota keluarganya, pembangkangan kaum yang didakwahinya, penyakit, kemiskinan dan lain-lainnya. Para Rasul yang tergolong Ulul Azmi ini adalah: Nabi Musa a.s, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Nuh a.s, Nabi Isa a.s, Nabi Muhammad SAW.

Dalam proses dakwahnya, para Rasul oleh Allah SWT telah dibekali dengan mukjizat. Mukjizat adalah kemampuan luar biasa yang tidak masuk akal yang dilakukan oleh seorang Rasul, fungsinya antara lain adalah untuk menundukkan para kaum kafirin dan sebagai bukti (dalil) atas kenabiannya. Perbedaannya mukjizat dengan keluarbiasaan lainnya (karamah, hikmah, istijrad dan sihir) adalah bahwa kemampuan mukjizat adalah kemampuan langsung dari Allah SWT tanpa melalui khadam atau perewangan serta tidak berangkat dari hawa nafsu para Nabi dan Rasul. Hal yang lumrah terjadi pada keluarbiasaan lainnya semacam hikmah, istijrad dan sihir. Yang terpenting adalah bahwa mukjizat adalah sesuatu yang tidak bisa dipelajari oleh manusia umumnya.

Dalam sejarah Risalah, Allah SWT setidaknya telah mengutus puluhan Nabi dan Rasul. Namun demikian hanya beberapa saja dari mereka yang wajib diketahui oleh umat Islam. Mereka adalah 25 Nabi dan Rasul Allah SWT terpilih, yaitu: Nabi Adam a.s, Nabi Idris a.s, Nabi Nuh a.s, Nabi Hud a.s, Nabi Shalih a.s, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Luth a.s, Nabi Isma’il a.s, Nabi Ishaq a.s, Nabi Ya’qub a.s, Nabi Yusuf a.s, Nabi Ayyub a.s, Nabi Syu’aib a.s, Nabi Haaruun a.s, Nabi Musa a.s, Nabi Yasaa’ a.s, Nabi Dzulkifli a.s, Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s, Nabi Ilyaas a.s, Nabi Yunus a.s, Nabi Zakariyya a.s, Nabi Yahya a.s, Nabi Isa a.s, Nabi Muhammad SAW.

Dalam sejarah kenabian, maka Nabi Muhammad SAW adalah nabi penutup dengan sejumlah keistimewaan yang melekat padanya, antara lain adalah bahwa Nabi Muhammad SAW tergolong ulul azmi. Beliau adalah Rasul yang diutus sebagai penutup kenabian (khatamul ambiya’: artinya adalah bahwa setelah Nabi Muhammad SAW maka tidak ada lagi pengangkatan nabi dan Rasul oleh Allah SAW) dan ajarannya adalah bagi seluruh umat manusia (universal). Ini berbeda dengan nabi dan Rasul sebelumnya yang ajarannya hanya diperuntukkan bagi umatnya saja.
Dalam dasarwarsa terakhir ini, mengemuka sejumlah fenomena menarik yang layak guna diangkat dan dikomentari dalam dinamika ajaran Islam di Indonesia. Dinamika yang dimaksud adalah merebaknya aliran-aliran kepercayaan dan fundamentalisme agama yang menisbatkan ajaran atau organisasinya sebagai bagian integral dari agama Islam. Bahkan, sebagian diantara pemimpin spiritualnya secara tegas mendakwakan diri sebagai utusan (Nabi/Rasul/Manifestasi Jibril/Imam Mahdi) dari Allah SWT pasca kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Apakah yang melatarbelakangi gejala distorsi keagamaan ini? Lalu mengapa pula ‘agama’ ini senantiasa mampu menarik minat masyarakat luas guna menganutnya?.
Tentu, fenomena empirik ini tidak berdiri sendiri. Terlalu banyak faktor yang memungkinkan terjadinya distorsi keagamaan ini mengemuka ke ranah keyakinan. Sebaliknya, fenomena ini juga tidak boleh serta merta diberi stretotip sesat oleh umat Islam sebelum adanya upaya riset serius guna memberikan justifikasi yang adil. Namun demikian, pada dasarnya hal-hal yang mencemari ‘standar baku’ Akidah Islamiyyah itu bersumber dari beberapa tema yang akan menjadi sub-sub pembahasan kemudian. Munculnya gerakan keyakinan yang dimotori oleh beberapa oknum umat Islam seperti Lia Eden, Ahmad Mushaddiq dan Ahmad Mirza Ghulam merupakan bukti emprik akan adanya gelombang pergeseran sendi-sendi akidah yang nyata-nyata tengah terjadi di ranah umat.

(رواه الترمذى)وَإِنَّهُ سَيَكُوْنُ فِى أُمَّتِى ثَلاَثُوْنَ كَذَّابُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعَمُ أَنَّهُ نَبِىٌّ وَاَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَانَبِىَّ بَعْدَى
“Akan ada dilingkungan umatku 30 orang pembohong yang mendakwakan bahwa ia adalah nabi. Saya (Muhammad) adalah Nabi Penutup, tiada lagi (pengangkatan) nabi sesudahku” . (HR. Imam Tirmidzi).

Standar

One thought on “RELASI ALLAH SWT, MANUSIA DAN ALAM SEMESTA

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s