Tulisan ini merupakan makalah tugas akhir mahasiswa SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PURWOKERTO 2010 Mata Kuliah : Aqidah Islamiyah

Dosen Pengampu : Sugeng Riyadi, M.Si

Disusun oleh :
1. Khayatus Sa’adah 102331092
2. Nur Fuadi 102331093
3. Amanatun 102331094
4. Ambar Rizkina 102331095
5. Nurfilaeli Setiyani 102331096
6. Fery Helmi Kurniawan 102331097
7. Mei Triana Putri 102331098

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………………..1
BAB II PEMBAHASAN
A. Asal – Usul Kejawen…………………………………………………………………………………2
B. Macam – Macam Golongan……………………………………………………………………….2
C. Sistem Keyakinan……………………………………………………………………………………..7
D. Pendiri Dan Tokoh…………………………………………………………………………………….8
E. Relasi Sosial……………………………………………………………………………………………..8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………………………………………………9

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat jawadwipa (dahulu kala), telah mengenal Tuhan dilakukan pertama-tama dengan pemujaan para roh dan benda-benda. Pemujaan pada roh disebut aminisme dan pemuja kekuatan bendawi disebut Dinamisme. Religi jawa semacam ini, ternyata masih berlangsung sampai sekarang yaitu dengan adanya ritual-ritual dan sesaji.
Ritual dan sesaji adalah bentuk negosiasi supernatural agar kekuatan adikodrati, mau diajak kerja sama. Tindakan lain yang berupa pemujaan animisme dan dinamisme adalah pemberian sesaji bagi dhayang merkayangan, sehingga ambureksa, yaitu roh leluhur yang menjaga rumah atau tempat tinggal.
Orang jawa percaya, di rumah dan tempat tinggalnya dijaga oleh roh-roh halus. Bahkan ditempat yang mereka anggap wingit (sakral). Misalnya pohon besar, belik, perempatan jalan, dan sebagainya ada penunggunya. Penunggu tersebut harus diberi sesaji agar mau membantu hidup manusia. Keyakinan di atas, sejak jaman Hindu-Budha mengalir di Jawa, terjadilah sinkretisme. Akibatnya, praktis-praktis dengan model bertapa dan mitologi Jawa semakin berkembang.

B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas, kami akan sedikit mengorek tentang Islam Kejawen.
1) Apa pengertian dari Islam Kejawen ?
2) Macam-macam dan perbandingan golongan dalam Islam Kejawen ?
3) Sejarah munculnya macam-macam Islam Kejawen ?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Asal – Usul Kejawen
Kejawen sebenarnya bermula dari dua tokoh misteri yaitu Wisnu dan Sadono Sri sebenarnya penjelmaan dari Dewi Laksmi, istri Wisnu dan Sadono adalah penjelmaan Wisnu itu sendiri. Itulah sebabnya, kalau ada anggapan bahwa Sri dan Sadono adalah kakak beradik. dan kebenaran tergantung dari mana kita meninjau.
Dalam kaitan ini, sesungguhnya Sri dan Sadono adalah sepasang suami istri yang menjadi cikal bakal Kejawen. Komunitas Kejawen yang amat kompleks, telah melahirkan berbagai sekre dan berbagai tradisi kehidupan di Jawa. Bahkan, didalamnya tedapat paguyuban-paguyuban yang selalu membahas Alam hidupnya. Paguyuban tersebut lebih bersifat mistis dan didasarkan konsep Tuhan. Masing-masing paguyuban memiliki “jalan hidup” yang khas Kejawen. Masing-masing wilayah Kejawen, juga memiliki pedoman khusus yang khas Jawa. Daerah-daerah Kejawen biasanya masih menjalankan mistik, meskipun kadarnya berbeda-beda. Masing-masing wilayah memiliki keunikan tersendiri dalam menjalankan mistik. Tepatnya, di Banyumas, disana terdapat beberapa organisasi atau kelompok Islam Kejawen. Contohnya seperti:
a) Sapta Dharma
b) Islam Sejati
c) Manunggaling Kawula Gusti
d) Satria Piningit
e) Islam Blangkon
Kelompok-kelompok tersebut mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Seperti halnya Sapta Dharma , karena mereka terlalu meyakini dengan adanya Tuhan sehingga mereka tidak mewajibkan sholat, dan tidak mengharamkan sholat pula. Mereka juga masih mempercayai dengan sesajen-sesajen, sedangkan untuk golongan-golongan yang lain juga mempunyai cara dan adat tersendiri dalam kesendirian, beribadah dan juga cara-cara penyembahannya.

B. Macam-Macam Golongan
1. Manunggaling Kawula Gusti.
Kata “kawula gusti” termasuk kata kunci dalam ajaran Kejawen. Manusia harus bersifat dhepe-dhepe. Dalam kaitan ini Ki Kusumowicitra pada saat kongres Teosofi di Semarang, menyatakan :“yen sampun mekaten anggenipun inggih tata, weksan lerem. Dene lerem wan saiki aben – abenan sekathahing pirantos sampun sarujuk ing ngriku temehan saged jumeneng….
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa Manunggaling Kawula Gusti akan menciptakan ketenangan batin. Berarti ada titik temu yang harmoni antara manusia dengan Tuhan. Manusia merasa menganggap Tuhan melalui batin. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa mistik kejawen adalah pengetahuan meta fisika terapan yang bersifat transedental. Didalamnya terdapat aturan – aturan praktisi untuk memperkarya kehidupan batin manusia yang didasarkan pada analisis intelektual.
“Menungsa urip teng dunya niku mboten nyantri nggih nyandi”. Maksudnya, manusia hidup di alam ini terbagi menjadi dua, yaitu “nyantri” dan “nyandi”. Dua istilah ini digunakan untuk memilah antara kelompok yang notabene muslim dengan pengalaman rukun Islamnya yang lima secara utuh, yang sering mereka sebut dengan Islam lima waktu, dan kelompok muslim yang pengalaman rukun islamnya hanya tiga (syahadad, puasa, dan zakat) tanpa melakukan shalat lima waktu. “nyandi” berarti poros keyakinannya mendasarkan pada punden, yaitu tempat-tempat suci adalah makam Kyai Bonokeling.

2. Islam Sejati
Islam Sejati ditengarai sebagai aliran sesat, karena banyak ajarannya yang tidak sesuai. Disebutkan bahwa kesesatan Islam Sejati itu dikarenakan:
a) Sholat menghadap 4 arah mata angin, yakni utara, barat, timur dan selatan. Salah satu ‘pembelaan’ pengikut Islam Sejati adalah di Islam sholat seperti ini (menghadap ke 4 arah mata angin) dikenal sebagai sholat mencari rejeki. Dari berbagai referensi, tidak ditemukan satupun contoh dari ulama apalagi hadits dan sunnah Rasululloh SAW tentang sholat mencari rejeki dengan cara menghadap 4 arah mata angin.
b) Sholatnya dilakukan 3 waktu (3 kali) dalam sehari. Tidak didapatkan informasi yang lebih lengkap tentang waktu pelaksanaan sholat versi Islam Sejati ini. Padahal sudah jelas, Islam (melalui Rasululloh SAW) sudah mengajarkan bahwa sholat dilakukan 5 waktu.
c) Keyakinan bahwa bulan 6 (Juni) 2007 akan terjadi kiamat. Tidak diketahui secara pasti tanggal terjadinya. Islam sendiri sudah mengajarkan bahwa KIAMAT TIDAK DIKETAHUI KAPAN DATANGNYA.
Dari tayangan tersebut, didapatkan juga informasi mengenai sholat 4 arah mata angin ini. Pada hari Minggu menghadap Timur, Senin menghadap Selatan, Selasa menghadap Barat, Rabu menghadap Utara, Kamis menghadap Timur, Jum’at menghadap Selatan, dan Sabtu menghadap Barat. Tokoh islam sejati ada 2 orang, yakni Ahyari dan Heri bin Nacim (tidak terlalu jelas).

3. Sapta Dharma
Sejarah Penerimaan Ajaran dan Ilham-ilham oleh Bapak Panuntun Agung Sri Gutama serta Perkembangan dan Penyebarannya.
Di kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, berdiamlah seorang bumi putra bangsa Indonesia yang bernama Bapak Hardjosapuro. Pada tanggal 26 Desember 1952, Bapak Hardjosapuro seharian ada di rumah. Pada malam harinya beliau pergi berkunjung ke rumah temannya. Setelah beliau pulang, selagi mau tidur, tepat pada jam 01.00 malam, sekonyong-konyong seluruh badan beliau tergerak dengan sendirinya, untuk sujud kehadapan Hyang Maha Kuasa secara otomatis diluar kemauannya dengan ucapan-ucapan sujud seperti dilakukan oleh warga Sapta Dharma sekarang ini.
Sebelum 12 Juli 1954 peribadatan itu belum diketahui namanya. Selanjutnya menyusul penerimaan ”Wewarah Tujuh”. Kejadian ini sama halnya dengan gambar simbul pribadi manusia, hanya bedanya dalam penerimaan yaitu kelihatan tulisan tanpa papan (Sastra Jendra Hayuningrat). Sedangkan bahasanya memakai bahasa daerah.
Pada tanggal 27 Desember 1955, selagi para warga mengadakan pasujudan bersama di Pare, diterimalah nama Sri Gutama. Bersamaan dengan diterimanya nama tersebut jatuhlah hujan lebat semalam suntuk, seterusnya dari tanggal 19 Agustus 1956 Bpk Harjosapuro disebut menjadi Panutan Agung Sri Gutama (Pelopor Budi Luhur). Kemudian tugas untuk menyiarkan ajaran ini diterima terus menerus dari Hyang Maha Kuasa oleh Panuntun Agung Sri Gutama, akan tetapi selalu ditolaknya dan ditentangnya. Karena perintah itu tidak dapat dielakkan dan apabila ditolaknya dan ditentangnya hukuman dari Tuhan dengan kontan diterimanya.Apakah Sapta Dharma(Manusia, Kemanusiaan dan Tuhannya)
Sapta Dharma diturunkan untuk mengembalikan akhlak manusia dan memberikan pepadang kepada sekalian umat menuju kebudiluhuran. Sapta Dharma mempunyai tujuan untuk memayu hayuning bahagianya buana artinya membimbing hidup manusia untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akherat ( mencapai kebahagiaan hidup jasmani dan rohani ).
Adapun wahyu-wahyu yang diterima adalah sebagai berikut :
• Wahyu Sujud adalah memuat ajaran tentang tata cara menembah kepada Allah Hyang Maha Kuasa.
• Wahyu Racut adalah memuat ajaran tentang tata cara rohani manusia untuk mengetahui alam langgeng atau melatih sowan/menghadap Hyang Maha Kuasa.
• Wahyu Simbol Pribadi Manusia menjelaskan tentang asal mula, sifat watak dan tabiat manusia itu sendiri, serta bagaimana manusia harus mengendalikan nafsu agar dapat mencapai keluhuran budi.
• Wewarah Tujuh, merupakan kewajiban hidup manusia di dunia sekaligus merupakan pandangan hidup dan pedoman hidup manusia. Dalam wewarah tujuh tersebut tersirat kewajiban hidup manusia dalam hubungannya dengan Allah Hyang Maha Kuasa, Pemerintah dan Negara, Nusa dan Bangsa , sesama umat makluk sosial, pribadinya sebagai makluk individu, masyarakat sekitar dan lingkungan hidupnya serta meyakini bahwa keadaan dunia tiada abadi selalu berubah-ubah (Anyakra Manggilingan).
• Wahyu Sesanti yamg cukup jelas dan gampang dimengerti oleh siapapun, membuktikan suatu etika/ciri khas Sapta Dharma yang menitik beratkan kepada warganya harus membahagiakan orang lain (tansah agawe pepadang lan maraning lian).
Riwayat Penerimaan Wahyu Ajaran Kerohanian Sapta Dharma
Riwayat penerimaan wahyu ajaran kerohanian Sapta Dharma, berlangsung secara terus-menerus berupa wejangan tulis tanpa papan (Sastra Jendra Hayuningrat) melalui sarana Sujud, selama 12 tahun sampai wafatnya Bapak Panuntun Agung Sri Gutama (penerima wahyu ajaran) tanggal 16 Desember 1964.
Istilah yang ada di dalam Kerohanian Sapta Dharma adalah istilah asli, dalam arti istilah-istilah tersebut didapat dari hasil penerimaan yang datangnya dengan tiba-tiba/sekonyong-konyong dalam keadaan yang luar biasa, dengan saksi-saksi yang berganti-ganti.
Tanggal 27 Desember 1952, jam 01.00 sampai dengan jam 05.00 diterimanya wahyu Sujud, sekonyong-konyong si penerima wahyu, Bapak Hardjosapuro, seluruh tubuhnya bergerak dengan sendirinya untuk melaksanakan sujud kepada Allah Hyang Maha Kuasa, secara otomatis diluar kemauannya (tidak dapat ditahan dengan kekuatan hatinya).
Ajaran ini aslinya Sapta Dharma namun, dengan adanya hasil Seminar Nasional Penghayat Kepercayaan bahwa aliran kepercayaan dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu; Kerohanian, Kebatinan, Kejiwaan, maka Sapta Dharma berubah menjadi Kerohanian Sapta Dharma, dan satu-satunya aliran Teologi Tradisional yang menggunakan istilah Kerohanian.
4. Satria Piningit
Satria Piningit adalah orang yang sudah memenuhi syarat menjadi wakil Allah SWT. Beliau adalah seorang yang sempurna baik dari segi spiritual, moral, budi pekerti, wawasan ilmu pengetahuan, kemasyarakatan, berintelijensi tinggi maupun strategi militer dan segala aspek kehidupan. Beliau sangat arif bijaksana tidak pernah menampilkan kesombongan dan otoriter, beliau sangat peduli terhadap rakyat khususnya Indonesia umumnya dunia. Beliau tampil menjadi Pemimpin Dunia sebagai Penguasa dunia. Beliau berpenampilan sederhana, wibawa dan dermawan, berjiwa sosial karena beliau mempunyai harta tidak bisa terhitung angka nominalnya, maka beliau berhak menjadi seorang nomor satu di dunia baik dari segi kekayaannya maupun intelektualnya. Disinilah ciri-ciri dari Satria Pininggit. Beliau berhak mengucap Bismillah : Jadi maka jadilah , Kun Fayakun. Sekali ucap nyata. Beliau tidak pernah mengalami sedih, duka, takut, gelisah, was-was, dan sebagainya. Karena beliau sudah menjadi mukmin sejati atau menjadi Orang Islam sejati , karena Islam berarti Selamat. Orang yang masuk agama Islam harus mengucap dua kalimat syahadat baru menjadi orang Islam, padahal orang tersebut belum menjadi Islam karena masih belum dan masih jauh dari pengertian selamat, orang ini masih diliputi sedih, duka, ketakutan, gelisah dan sebagainya.
Satria Pininggit inilah yang memenuhi syarat sempurna menjadi Pemimpin Negara NKRI dan Dunia. Beliau sudah tidak merasakan kesusahan, kekurangan harta dan sebagainya, karena bila beliau masih kurang harta dan kurang budi pekertinya maka bila beliau menjadi Presiden Yang Korupsi, Tamak, Serakah dan Otoriter dan sebagainya. Sekarang bila anda-anda yang merasa mempunyai ciri-ciri tersbut, maka andalah yang akan memimpin bangsa ini dan dunia. Amin Indonesia Jaya.
5. Islam Blangkon
Desa Pekuncen merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Pada umumnya, mata pencaharian masyarakat Pekuncen adalah petani dan buruh tani. Mayoritas penduduk desa ini beragama Islam dengan model keberagamaan yang unik dan berbeda dengan masyarakat muslim pada umumnya. Di desa ini terdapat sebuah kelompok masyarakat yang mengaku sebagai muslim yang kental dengan tradisi “kejawen”. Masyarakat desa ini menyebutnya dengan kelompok adat.
Nama Pekuncen sebagai sebuah nama desa diambil dari kata sucen berarti suci. Yang dimaksud di sini sebagai tempat pensucian dalam bentuk semedi oleh Kyai Bonokeling sebagai tokoh leluhur orang yang pertama membuka lahan pertanian desa Pekuncen. Dengan demikian nama Pekuncen dimaksudkan untuk mensucikan jiwa. Daerah Pekuncen ini awalnya tempat yang sangat sepi, dan kering yang sangat layak dijadikan tempat bertapa dalam rangka mensucikan jiwa. Karena itu, dahulu, warga Pekuncen dan sekitarnya tidak diperbolehkan nanggap Wayang dan Lengger dengan maksud menjauhkan diri dari ”mo limo” atau maksiat. Namun sekarang larangan seperti itu sudah dilanggar oleh masyarakat. Fenomena ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Sumitro diistilahkan dengan ungkapannya, “Wong Jawa kuwi jawal”.

C. Sistem Keyakinan
Sistem keyakinan Islam Kejawen sangat jelas tergambar dari penuturan salah seorang tokoh (kesepuhan) aliran ini yakni bapak Mulyareja yang menyatakan, “Menungsa urip teng dunya niku nek mboten nyantri nggih nyandi”. Pernyataan ini berarti bahwa, manusia hidup di alam dunia ini terbagi menjadi dua, yaitu “nyantri” dan “nyandi”. Dua istilah ini digunakan untuk memilah antara kelompok yang notabene muslim dengan pengamalan rukun Islamnya yang lima secara utuh yang sering mereka sebut dengan Islam lima waktu dan kelompok muslim yang pengamalan rukun Islamnya hanya tiga (syahadat, puasa dan zakat), tanpa melakukan shalat lima waktu. Karena itu istilah “nyantri” sama dengan “Islam lima waktu”, sedangkan istilah “nyandi” lebih identik dengan “Islam tanpa shalat lima waktu”. Nyandi berarti poros keyakinanya mendasarkan pada Punden yaitu tempat-tempat suci. Tempat yang paling dianggap suci adalah makam Kyai Bonokeling. Seorang wakil Kyai Kunci, Wiryatpada menuturkan, “Kula niki nggih Islam, sanes Hindu sanes Budha”. Ia percaya akan adanya Gusti Allah sebagai Tuhan, tempat dimana manusia meminta pertolongan. Ia juga percaya dengan Muhammad sebagai Nabi dan rasul Allah. Dengan jelas ia melafazkan shalawat Nabi Allahumma Shalli ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin. Semua ummat Islam hakikatnya bergerak pada tujuan dan muara yang sama yaitu mencapai kebenaran hakiki yaitu kebenaran yang hanya milik Allah. Perbedaan dalam beribadah tidak lebih perbedaan dalam hal cara mencapai tujuan. Dalam beribadah seseorang perlu perantara antara lain dengan menyalakan dupa dan kemudian diberi pengantar do’a oleh Kyai Kunci/wakil Kyai Kunci agar dapat dikabul oleh Yang Maha Kuasa. Syahadat atau “sadat” menurut lisan komunitas muslim kejawen hanya diucapkan pada saat melakukan perkawinan di depan pengulu (Petugas Pencatat Perkawinan dari Kantor Urusan Agama/KUA). Adapun puasa, sebagaimana puasa yang dilakukan kelompok “santri” mereka lakukan pada bulan Ramadhan dengan mengikuti aturan waktu sebagaimana yang ditentukan oleh pemerintah. Namun demikian, sebagian para kesepuhan aliran ini masih mempercayai puasa sirrih yaitu “ne srengenge lingsir lan wetenge kerasa perih” (kalau matahari sudah tergelincir dan perut terasa perih) maka ketika itu boleh berbuka puasa. Menurut Kuswadi, dalam hidup di dunia ini ”sing penting urip golek selamet, carane aja mlanggar angger-angger/aturan-aturan” artinya, yang penting dalam hidup ini adalah mencari selamat dengan cara tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dalam hidup ini, masih menurut Kuswadi, yang penting selametan. Yang dimaksud selametan di sini adalah memberikan persembahan (berupa tumpeng atau ambeng dan dupa), kepada leluhurnya yang dipercayai bisa memberikan manfaat dan marabahaya dalam hidupnya. Dia mengatakan,”Asal munggah wonten panembahan nggih selametan, Doa selametan punopo mawon, nggih doa selametan kedah caosi shodaqoh wonten panembahan. Anak putu podo munjung misal kagem mantun anggenipun sakit”.
Menurut Sumitro,“Wong urip ning dunya iki kudu mados ilmu kangge akhirat lan mados sangune gesang teng alam kelanggengan”. Artinya, seseorang hidup di dunia ini harus mencari/menggali pengetahuan untuk hidup di akhirat dan mempersiapkan bekal untuk hidup di alam yang kekal. Ibadahnya orang kejawen adalah slametan, misalnya: Nyadran, saben omah paring caos dateng Kyai Bonokeling, Muludan yang dilaksanakan di Adiraja dan selamatan lainnya. Menurut Istri Kyai Mejasari, “Wong kejawen iku uripe boros, apa-apa slametan terus, tapi mergo adat kebiasaane leluhure ya dilakoni bae amrih selamet, mila niku teng ngriki mboten wonten ingkang gadhah omah gedong”. Menurut sebagian komunitas Kejawen, mereka juga meyakini adanya alam sesudah alam nyata ini yaitu alam kelanggengan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Sumitro,”Sak bakdane alam dunya niki wonten alam kelanggengan, selawase, tanpa umur. Menawi tiyang sampaun teng alam kelanggengan niku ganti tatahan, nggih meniko tata batin”. (Setelah alam dunia ini ada alam baka, selama-lamanya tanpa usia. Ketika seseorang telah berada di alam keabadian ia akan berganti menjadi dunia (ruh). Mengenai balasan amal di akhirat, Sumitro menjelaskan, “Menawi manungsa teng alam padhang niki angger mlanggar aturan, nggih besuk badhe tinemu piwales. Gampangipun, yen ora gelem dijiwit, ya aja jiwit. Sebab tiyang gesang niki kedah ngangge planggeran, supaya ora ngrusak pager ayu. Wonten mo limo sing kudu dienggo, lan mo limo sing kudu ditinggalna”. (Ketika manusia hidup di dunia dan dia melakukan pelanggaran maka besok akan mendapatkan balasan yang setimpal. Gampangnya, kalau tidak mau dicubit ya jangan mencubit. Sebab manusia hidup ini harus memakai aturan supaya tidak merusak tatanan kehidupan. Ada 5 (lima) M yang harus dilakukan dan ada 5 (lima) M yang harus ditinggalkan). Menurut Kyai Kunci Karta Wijaya dari Adiraja bahwa komunitas Kejawen ini selain minta ke Gusti Allah (Alloh dibaca Alah) juga minta sesuatu ke Kyai Bonokeling. Ketika ditanya tentang keyakinannya ini beliau menjawab, “Riyin-riyin tuduh seka tiyang sepuh kados niku (Ini ada sejak dulu kala sebagaimana dikatakan oleh orang-orang tua)”.

D. Pendiri Dan Tokoh
Komunitas Islam Kejawen ini menurut beberapa sumber bermula dari ajaran yang dibawa oleh seorang tokoh yang kemudian oleh para pengikut aliran ini disebut dengan Kyai Bonokeling. Kyai Bonokeling konon berasal dari daerah sekitar Purwokerto tepatnya dari Pasir Luhur. Daerah Pasir Luhur menurut cerita merupakan bekas kekuasaan kerajaan Pajajaran. Tidak diketahui secara pasti kepindahan Kyai Bonokeling ke daerah Pekuncen Jatilawang. Yang jelas berdasarkan penuturan beberapa narasumber, bahwa keberadaan Kyai Bonokeling adalah dalam rangka among tani yaitu babad alas untuk kepentingan membuka lahan pertanian baru di daerah tersebut. Kehadiran Kyai Bonokeling di Pekuncen di samping membuka lahan pertanian juga menyebarkan keyakinan agama Islam dengan mengakomodasi berbagai tata nilai budaya lokal. Salah satu karakteristik yang menonjol dari tradisi yang ia kembangkan adalah tradisi selametan untuk berbagai kepentingan. Kyai Bonokeling mempunyai seorang isteri bernama Mbah Kuripan. Dari hasil perkawinanya melahirkan empat orang anak Dewi Pertimah bertempat tinggal di Tinggarwangi, Gandabumi tinggal di Pungla, Danapada yang menetap di Pekuncen dan satu lagi di Adiraja. Dari keturunan Danapada lahir tiga orang anak yaitu dua anak laki-laki Danatruna dan Capada serta seorang anak perempuan yang bernama Cakrapada. Cakrapada mempunyai seorang suami yang berasal dari daerah yang bernama Selastri yang kemudian suami Cakrapada tersebut dikenal dengan Kyai Cakrapada. Estafet kepemimpinan Kyai Bonokeling diteruskan oleh Cakrapada yang kemudian dikenal dengan sebutan Ni Cakrapada sebagai Kyai Kunci pertama dari aliran ini.
Sampai saat ini jumlah Kyai Kunci yang menjadi pemimpin komunitas aliran ini sudah mencapai pada generasi Kyai Kunci yang ke-13. Berikut tata urutan ketigabelas Kyai Kunci, yaitu, Ni Cakrapada, Kyai Sokacandra, Kyai Candrasari, Kyai Raksacandra, Kyai Tirtasari, Kyai Prayabangsa, Kyai Padasari, Kyai Prayasari Kyai Singapada, Kyai Jayadimulya, Kyai Arsapada, Kyai Karyasari, Kyai Mejasari.

E. Relasi Sosial
Dalam konteks relasi sosial antar anggota kelompok Kejawen dengan masyarakat lainya (muslim masjid) berjalan secara baik dengan hidup guyub dan rukun. Belum pernah terjadi gesekan atau konflik yang bersifat fisik antar warga masyarakat yang dipicu oleh perbedaan paham ini. Bahkan menurut Wiryatpada, kalupun ada tarikan sumbangan pembangunan masjid anggota masayrakat yang berasal dari kelompok Kejawen juga memberikan sumbangan untuk pembangunan masjid. Namun demikian, menurut Arlam terdapat sentimen yang bersifat laten dan di bawah permukaan seringkali kelompok adat (Kejawen) memandang kurang simpatik terhadap aktivitas keagamaan terutama terhadap anak-anak mereka. Tidak jarang orang tua dari kelompok adat melarang anaknya untuk mengaji/shalat di masjid.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Jawa selalu mencoba mencari harmoni antara alam Makrokormos dan Mikrokormos. cara yang banyak ditempuh adalah melalui “laku” kebatinan atau ritual mistik Kejawen, untuk menemukan rasa sejati dalam pengembaraan sukma. Fenomena mistik Kejawen bagi sebagian orang memang masih banyak mengundang tanda tanya, bahkan Islam Kejawen dikatakan sebagai aliran yang sesat karna ajarannya tidak sesuai syariat Islam seperti, Sapta Dharma yang tidak mewajibkan shalat dan tidak mengharamkan shalat. dan masih banyak penyimpangan-penyimpangan lainnya yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

DAFTAR PUSTAKA

http://Tausiyah275.bloysome.com/

http://sapta-darma.info/riwayat.html

http://sapta-darma.info/sesanti.html

http://sapta-darma.info/sejarah.html

http://sapta-darma.info/apakah.html

Endraswara, suwardi.2003.Mistik Kejawen.Yogyakarta:NARASI

About Mandor Ladang

Pemuda kelahiran Rimbo Bujang 23 juli 1981 ini merupakan alumni Univ. Islam Malang dan sedang meretas pendidikan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sangat mencintai Rimbo Bujang dan memiliki respek yang tinggi terhadap perjuangan Ekonomi Islam.

3 responses »

  1. cuncen mengatakan:

    itu adalah suatu kesyirikan yang nyata….. (comen-tulisan diatas)

  2. M Khafid, th akademik '90 mengatakan:

    apreciate for you all……enlarge the other knowlegde…more and more, tx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s