Tak Berkategori

QUO VADIS ADVOKASI PEMUDA


 QUO VADIS ADVOKASI PEMUDA

Sugeng Riyadi, SE Penulis adalah aktivis GP Anshor Tebo Jambi dan sedang menempuh pendidikan pada Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. sr_indonesia@yahoo.co.id

 

Dalam realitas sejarah Indonesia, pemuda senantiasa mendapat tempat dalam setiap dinamika kebangsaan. Dipundaknyalah tertumpu harapan-harapan arah kemajuan negara. Dalam babak perjalanan negara Indonesia, ilmu sejarah membagi dalam tiga generasi pemuda; perjuangan revolusi kemerdekaan, periode orde baru dan terakhir adalah era reformasi. Bila diibaratkan medan pertempuran, maka pemuda dan gerakannya selalu berada di garda terdepan.

Bila kita melipat sejarah, maka akan tampak bahwa gerakan kepemudaan di tanah air terlihat begitu heroik. Pada setiap generasi selalu memunculkan pahlawan-pahlawan baru, seolah sejarah memang diciptakan Allah guna memberi peluang para pemuda untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam perspektif Gerakan Pemuda Anshor kita mengenal nama-nama Bung Tomo, Saifudin Zuhri, dan Wahid Hasyim. Beliau-beliau sebagai santri muda yang sanggup menggelakkan darah generasi muda Nahdhatul Ulama untuk berbakti dan berjuang untuk bangsanya.

Namun, jika kita melompati sejarah dan tiba di masa reformasi ini, maka akan muncul keprihatinan dihati akan orientasi kepemudaan di negeri ini. Secara empiris, pemuda di zaman ini dapat dipetakan ke dalam tiga katagori:

Pertama, adalah para pemuda yang bernaung di bawah bendera kampus. Badan Eksekutif Mahasiswa, Lembaga Dakwah Kampus dan sejumlah organisasi otonom mahasiswa menjadi motor guna mengidentifikasikan gerakannya. Medan juang yang dipilih lebih bersifat sosial politik sentris, dengan demontrasi sebagai media aspirasi. Obyek yang menjadi isu perjuangan terfokus di sekitar kebijakan-kebijakan kampus, pemerintah dan masalah dunia global.

Kedua, adalah para pemuda yang bernaung di bawah organisasi kepemudaan yang berafiliasi pada organisasi tertentu, baik partai politik, ormas Islam , kedaerahan maupun Lembaga Swadaya Masyarakat. GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah, dan Komando Lasykar Islam merupakan representasi para pemuda di bawah bendera organisasi masyarakat Islam. Sementara di ranah politikpun bertebaran organisasi kepemudaan sebagai sayap-sayap partai politik, seperti Pemuda Ka’bah, Garda Bangsa, Pemuda Pancasila dan Banteng Muda Indonesia. Sementara di sisi lain terdapat pula organisasi berbasis lembaga kemasyarakatan, seperti: klub pecinta alam, karang taruna, pemuda masjid, pemuda gereja, paku banten, forum betawi rembug dan lain-lainnya.

Ketiga, adalah mereka para pemuda yang tidak mengikatkan dirinya pada organisasi kepemudaan dilingkungannya. Katagori ini lebih bersifat pasif dan cenderung memilih hedoenisme sebagai pilihan masa mudanya. Sejumlah kalangan menilai ini merupakan anomali kepemudaan yang seyogyanya tampil enerjik, semangat, beridealime pada fungsi perubahan. Namun sayangnya katagori ini tampaknya lebih masif ditemukan dikalangan pemuda kita dewasa ini.

         Apabila dilakukan suatu testemoni, perbandingan kepedulian pemuda  katagori ketiga di atas dengan lingkungan masyarakat di wilayahnya tentu akan menimbulkan keprihatinan. Diperkotaan sendiri selain para pemuda yang aktif berorganisasi, mereka seolah kehilangan orientasi. Dedikasi yang umum dilakukan adalah dengan bekerja, dan diluar itu cenderung lebih memilih dengan menghibur diri dengan berbagai macam cara. Sementara dipedesaan sendiri juga tak kalah menariknya untuk dianalisa, lihatlah perbandingan keikutsertaan para pemuda dalam pengajian kampung dengan keikut sertaan para muda pada event-event hiburan dangdutan. Benarkah lingkungan masyarakat  merupakan monopoli para manula dan orang tua? Benarkah para pemuda merupakan kelas kedua di masyarakat yang perlu di uji? lalu mengapa  para pemuda alumni pesantren justru lebih diterima masyarakat jika dibandingkan lulusan universitas-universitas? Cobalah tentukan wilayah demakrasinya.

         Pada hakekatnya ada sesuatu yang dapat mendamaikan dikotomis-dikotomis peranan pemuda dan arah pengabdiannya di masyarakat, yaitu ilmu, keterampilan dan budi pekerti. Tentu, tiga hal tersebut berdiri di atas sifat dasar para pemuda yang penuh semangat, selalu ingin tahu dan bermental baja. Dengan determinan-determinan tersebut maka dapat dipastikan, bila para pemuda di negeri ini akan menemukan arah perjuangan yang sesuai dengan platform yang dijalaninya.

         Haruskah pemuda Indonesia selalu identik sebagai kelas kedua di masyarakat? Benarkah stigma negatif yang melekatnya; kenakalan remaja, free sex, geng kriminal, pengguna narkoba dan lain sebagainya? Tentu, sekali lagi ini adalah penempatan pemahaman yang keliru tentang eksistensi pemuda. Bukankah banyak bukti dewasa ini yang menunjukkan bagaimana para pemuda dapat melakukan sesuatu yang lebih bagi negaranya dalam dunia olah raga misalnya.

         Perhatian pemerintah dan orang tua menjadi mutlak dalam menentukan fungsi peranan para pemuda. Suri tauladan dan kesempatan mengapresiasikan diri serta kepercayaan dari pemerintah dan orang tua selayaknya diperoleh oleh yang muda. Dari hal ini kita dapat berharap, bahwa carut-marutnya kondisi bangsa dengan korupsi, krisis keteladanan dan mentalitas inferior akan terselesaikan dengan semangat, dedikasi dan eksistensi para pemuda anak bangsa. Semoga.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s