Tak Berkategori

Tengkulak Rimbo Bujang; Dewa Penolong atau Penghisap Keringat Petani


Rimbo Bujang adalah kecamatan yang termasyhur di Kabupaten Tebo bahkan di wilayah Propinsi Jambi. Rimbo Bujang menjulang namanya lebih disebabkan oleh beberapa faktor fundamental; petani yang giat bekerja dan hasil alam yang melimpah ruah dari jenis karet maupun kelapa sawit. Dua hal ini adalah anugerah Allah SWT yang jelas wajib untuk disyukuri dan diistiqomahkan sampai kapanpun oleh generasi muda Rimbo Bujang.klatak
Pasar persaingan sempurna yang dicanangkan semenjak program transmigrasi mulai membuahkan hasil, kini pada dekade kedua telah terlihat keruntuhannya. Ambruknya sejumlah koperasi yang berbasis pada kesejahteraan bersama mulai berganti dengan praktek monopoli hasil bumi oleh sejumlah tengkulak di berbagai Jalan pada setiap Unit di Rimbo Bujang.

bantalan
Tengkulak adalah pembeli yang membeli hasil bumi para petani dengan harga beli yang ditentukan secara sepihak oleh pembeli (tengkulak), pembeli dalam hal ini sama sekali tidak memiliki daya tawar karena telah terlilit hutang yang lebih dahulu diberikan oleh pihak pembeli (tengkulak). Praktek ini jelas sangat merugikan petani, melanggar hukum positif negara (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang) dan praktis melanggar syari’at di dalam agama Islam. Dzalim, bandit ekonomi dan pendosa mungkin predikat yang layak disematkan sebagai konsekuensi praktek tengkulakisme yang terjadi di bumi Rimbo Bujang. Praktek tengkulak ini kini selain diperkuat oleh monopoli modal juga mulai berkembang diperkuat oleh sistem birokraksi yang berkembang di Kabupaten Tebo. Mekanismenya adalah para tengkulak ini berusaha menghantarkan ‘orang-orang’nya ke ranah politis baik DPRD maupun lembaga strategis lainnya. Upaya ini dilakukan guna mempermulus regulasi-regulasi yang dipesan oleh tengkulak sebagai sponsor perolehan kursinya. Tentu ini semakin memperdalam jurang pemisah antara keadilan ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat Rimbo Bujang.

getah
Benarkah masyarakat Rimbo Bujang sudah sejahtera dengan kondisinya yang sekarang? Dalam pandangan yang sempit banyak pihak menganggap sudah sejahtera. Bayangkan hampir setiap rumah kediaman di Rimbo Bujang sudah permanen, kendaraan bermotor yang hampir ada di setiap warga, belum lagi instrument-instrument lainnya seperti televisi, parabola, VCD, tanah yang luas nan subur, pendidikan yang tinggi bagi putera-puteri Rimbo Bujang dan lain sebagainya. Dapatkah hal di atas menjadi cermin keadilan dan kesejahteraan masyarakat Rimbo Bujang?. Sepintas mungkin benar, namun apabila diperhatikan secara lebih seksama anggapan tersebut dapat saja keliru.

dsc_0000005
Dengan mekanisme perdagangan hasil kebun yang lebih adil dengan model koperasi misalnya, Rimbo Bujang pasti lebih maju dan sejahtera. Sistem tengkulakisme bukan saja menyebabkan berkumpulnya modal pada hanya sekelompok orang, mengeksploitasi para petani menjadi buruh ditanah sendiri, dan sistem ini secara telak melingkarkan jerat-jerat hutang di leher hampir setiap petani Rimbo Bujang. Kondisi ini akan lebih parah ketika para petani yang kurang bisa memenej kebun karetnya yang sudah tidak layak produksi dan mengkonversi lahan tersebut dengan kelapa sawit. Dapat dibayangkan hutang yang melilit sementara keringat terus terhisap habis namun karet sudah tidak produktif lagi setelah 25 tahunan diperah hasilnya. Ke depan Rimbo Bujang yang permai akan segera berubah menjadi Kecamatan yang penuh dengan para petani tak berlahan, pengangguran dan penjualan aset-aset rumah tangga sebagai penyambung hidup akibat petani tidak segera mengkonversi lahan yang ada dengan kelapa sawit.

Demikianlah, semoga hal ini bukan hanya menjadi keprihatinan penulis saja. Penulis berkeyakinan, bahwa putera-puteri Rimbo Bujang yang telah mengenyam pendidikan di luar Rimbo Bujang tentu dapat berbuat lebih untuk kesejahteraan, keadilan dan keberlangsungan peradaban di bumi Rimbo Bujang kita tercinta.

Maka itu saudara-saudariku, judul di atas dapat ditanyakan pada nurani dan realita di unitmu masing-masing. Kecuali tentunya, kalau pembaca justru adalah anak tengkulak atau praktisi tengkulakisme itu sendiri..

Standar

13 thoughts on “Tengkulak Rimbo Bujang; Dewa Penolong atau Penghisap Keringat Petani

  1. maaf ya mas Sugeng….
    kalau saya tidak setuju dengan tulisan anda tentang tengkulak Rimbo Bujang.
    mungkin sebagian dari para tengkulak ada yang seperti yang anda tulis.
    tp ada anda pernah bertanya dengan tengkulak yang justru dirugikan dengan petani itu sendiri?
    saya akui tulisan anda ini bagus tp sayangnya anda hanya memihak ke satu pihak saja.

    saya ingin bertanya, bagaimana menurut anda dengan tengkulak yang mengunakan cara berdagang dengan syariat dagang islam?
    apakah dia termasuk juga dengan penghisap petani karet?

  2. Sudah 4 tahun lebih berlaganan ata anggota.ko sekarang saya g diakui lg.dulu honda kamu 2 waktu kantornya di tebo aku selamat kan.waktu kabur anggotanya.ditingalkan nya hondanya ditepi jalan .memang g sadar ditolong orang entah koperasi apa.

  3. Pak kemaren ko g bisa di kabul kn permintaan aku.memang kalo.bisa .tolong surat nikah kami tlong di kembalikan km dulu.dirumah km .nya kamikasih surat nikah nya.dan tolong surat nikah km di kembalikan kerumah km juga.

  4. vian berkata:

    gmana dengan adanya unit pasar lelang karet tu mas? bukankah banyak juga petani yg udah beralih penjualan karetnya ke unit pasar lelang karetnya?

  5. ones berkata:

    saya juga merasakan kepedihan nasib ini, semoga kepintaran generasi baru dapat mengubah mimpi kita,ini juga dirasakan petani di telukkuali, sabagai tempat tinggal serta tanah kelhiran saya

    • Sugeng Riyadi, SE berkata:

      🙂 Amiin Bang.. semoga harapan abang bisa terkabulkan secepatnya, yakinlah apapun bentuk ketidakadilan itu pasti akan musnah meskipun memang butuh waktu dan kesabaran kita semua..

  6. tulisannya bagus…
    salut3x…ada juga yang perhatian ma rimbo….
    tapi ku rasa gak smua tengkulak kayak gitu [bukan krna aku anak tengkulak lhoh..]
    mereka juga korban kekejaman kapitalis dan sistem kapitalis dan sdh punya mindset hidup ala kapitalis…so taunya mereka cm cari untung…
    sbgai pemuda yg terpelajar alias intelek, sdh selayaknya Qta bantai sistem kapitalisme yang terbukti merusak dan tak mensejahterakan…

  7. Sugeng Riyadi, Se berkata:

    Krisis indetitas dan minimnya sarana penyaluran daya intelektual, kreativitas dan spiritual merupakan faktor mendasar degradasi sosial di Rimbo Bujang. Tiadanya perhatian Pemerintah akan pemberdayaan pemuda juga memberikan kontribusi bagi semua itu. namun demikianlah, setidaknya bagaimana kita bisa menjadi annas anfa’ahu linnas.

  8. Analisa yang bagus mas,mungkin masyarakan rimbo bujang juga terlalu nyenyak dengan kejayaanya saat ini.Kekhawatiran juga bukan dalam hal itu saja.Etika bergaul sebagai keturunan orang jawa juga sangat memperihatinkan.Seakan pemuda tidak lagi kritis tetapi hanya memikirkan dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s