Tak Berkategori

Anak Rimbo Bujang di antara Kampus & Pesantren


Nah.. pada kesempatan ini aku ingin berbagi pengalaman dengan kamu semua. Aku seorang Sugeng Riyadi bukanlah intelektual yang sehari saja dapat menjadi seperti sekarang ini. Perjalanan keilmuan yang kutempuh sungguh panjang dan berliku. Semoga dengan sharing pengalaman ini banyak para pemuda Rimbo Bujang yang kemudian terinspirasi atau termotivasi untuk lebih semangat di dalam menimba ilmu.

mas-sugeng

Aku adalah alumni SDN 332/II Unit VIII yang berkordinat di Jalan Malabar Desa Sukamaju, setamatnya Alhamdulillah pendidikan tingkat pertama dapat kutempuh di SMPN 1 Rimbo Bujang. Lokasi SMPN 1 Rimbo Bujang persis berada di depan Polsek Rimbo Bujang sekarang ini, dahulu tentu belum seruwet sekarang ini yang sekeliling sekolah telah didirikan kompleks pertokoan. Jenjang pendidikan atas kutempuh pada SMKN 1 Muara Bungo jurusan Akuntansi, namun ketika kelas dua (karena kurang puas dengan mutu pendidikannya) aku memutuskan untuk pindah sekolah ke Jawa Tengah di SMKN 1 Banyumas persisnya dan hingga tamat pada pertengahan tahun 2000.

sopiyan-lucu

Selanjutnya atas dukungan orang tua dan keluarga kulanjutkan pendidikanku di Universitas Islam Malang Fakultas Ekonomi Manajemen yang berada di kota dingin Malang. Praktis setelah terdaftar sebagai mahasiswa akupun terdaftar sebagai salah satu santri di Pondok Pesantren Al-Mubarok Malang yang diasuh oleh KH. Suyuthi Asyrof. Banyak kisah yang tercatat di Jawa Timur ini, karena pendidikan strata satu ini kutempuh hampir lima tahun lamanya. Selulusnya, aku sempat gamang akan melangkahkan kaki mungilku ke arah mana. Dapat dibayangkan, di antara memilih dunia kerja di pulau Jawa ini atau kembali ke Rimbo Bujang untuk mengabdi sembari membantu orang tua di kebun.

Aku adalah anak petani karet seperti kebanyakan penduduk Rimbo Bujang, jadi ya begini-begini aku juga cukup mahir untuk menyadap pohon karet tersebut. Tak ada yang istimewa dari keluargaku sebenarnya, selain tentunya akan keguyuban, saling menjaga dan semangat hidup yang tinggi. Mungkin ini buah dari pahit-manis perjuangan orang tuaku selama hidup beliau berdua, hingga kamipun merasa termotivasi guna menggapai hidup yang lebih baik.

Selulus kuliah S-1, akhirnya kuputuskan memilih satu hal yang paling kusyukuri dalam hidup ini; memperdalam ilmu agama. Lalu akupun berguru pada salah satu Ulama yang ‘alim dan dalam ilmunya, beliau adalah Kyai Ahmad Syaikhudin. Pesantren beliau merupakan salah satu halaqoh yang berkonsentrasi mempelajari ilmu tasawuf, Pesantren ini bernama Pondok Pesantren At-Taufiq dan berada tak jauh dari kota Blitar Jawa Timur. Di pesantren ini aku menimba ilmu selama kurang lebih enam bulanan, setelahnya langkah pena ilmuku menuntunku untuk menimba ilmu tata bahasa Arab di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara asuhan KH. Taufiqul Hakim. Perlu diketahui, bahwa ilmu bahasa Arab tergolong sulit untuk dipelajari, terlebih untuk kajian nahwu-shorofnya. Di pesantren ini aku mengaji sekitar enam bulanan, hal ini dengan dasar pertimbangan telah dibukanya pendaftaran jenjang S-2 di Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

dscn0800Pendidikan inipun akhirnya kutempuh pada Program Studi Hukum Islam konsentrasi Perbankan dan Keuangan Syari’ah. Sembari mengaji di salah satu pesantren terbesar di Indonesia; Pondok Pesantren Krapyak. Aku bermukim di Kompleks Nurussalam Putera asuhan KH. Fairuzi Afiq Dan ini kulakoni sampai tulisan ini ada dihadapan pembaca, dan aku sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan segenap kasih sayang dan nikmatNya pada insan Rimbo Bujang yang terlahir dari pelosok bumi nan jauh sana.

Aku bersyukur pula karena diselamatkan dari sejumlah pemahaman sempit tentang Islam. Karena aku melihat sendiri bagaimana telah sebegitu banyak mahasiswa-mahasiswi yang sebegitu semangat belajar agama, namun tidak didukung dengan guru dan ilmu yang memadai. Tentu sayang sekali, jauh-jauh dari sudut negeri Indonesia namun niat kuliahnya terbengkalai dan ironisnya pendidikan agamanyapun minus sekali. Contohnya banyak sekali; pernah suatu kali aku ditawari untuk menjadi aktivis dakwah yang misinya menegakkan syari’at Islam di Indonesia. Salah satu caranya ya dengan mendirikan negara Islam, namun ironisnya sang Ustadz yang merupakan seniornya para aktivis itu menggeleng menyatakan tidak tahu ketika (dengan agak iseng sih untuk menakar daya nalarnya tentang syari’at Islam) kutanyakan syarat sahnya wudhu’, juga tentang syarat sahnya sholat terlebih ketika kutanya apa bedanya Allah SWT dengan Yesus, dengan Buddha, atau bahkan dengan bakwan dan nasi kucing. Ah memalukan sekali.. MasyaAllah, orang-orang yang begini ini ingin menegakkan syari’at Islam? Semoga kita para generasi muda Rimbo Bujang semuanya dilindungi untuk tidak melakukan sesuatu amal yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya amaliyyah tersebut. Yang bayangkan saja jangankan perkara besar seperti negara, lha wong ngurusi wudhu’nya sendiri yang dilakoni setiap hari saja ora mudeng.. lha terus kepriwe bertauhid maring Allah SWT angger ora ngerti apa-apa sing dadi ciri-cirinya Gusti Alloh.. iya apa ora jajal? (‘logat banyumasan ini silahkan diterjemahkan ke dalam bahasa kamu semua masing-masing ya..’)

Bahkan parahnya lagi sekelompok muda-mudi dakwah kampus ini dengan mudah memberi stempel sesat, bid’ah atau khurafat pada sejumlah amaliah yang umum telah dilakukan pada masyarakat muslim. Ketika kutanya, mereka menyatakan hal-hal tersebut tidak ada dasarnya dalam Qur’an Hadits. Lalu sepulangnya dari kampus akupun membolak-balik Al-Qur’an berbagai kitab Hadits (kutubul sittah) dan ternyata amaliyah yang telah jamak dilakukan masyarakat Islam Indonesia seperti tahlilan, Perjanjen dan Yasinan memiliki dasar yang kuat sebagaimana tersirat dalam Qur’an dan sejumlah hadits yang shahih. Dan ketika esoknya kuajukan pada para aktivis tersebut dengan membawa kitab-kitab Hadits tersebut merekapun bungkam, lha gimana lagi wong bahasa Arabnya saja senin-kemis; ndak tau apa itu mubtada’ khobar ataupun naibul fail dan ndak tau juga tentang takhrij hadits, asbabul wurud dan nasikh mansukh. Oalah…Ternyata mereka mendiskreditkan amaliyah-amaliyah tersebut lebih disebabkan belum mengertinya mereka tentang ilmu Qur’an dan ilmu Hadits, jadi bukan tiadanya dasar-dasar nash agama. Wah bisa kacau peradaban Islam di Indonesia bila agamanya kelak dipegang oleh aktivis-aktivis sekelas muda-mudi ini. Mereka menghukumi sesuatu bukan karena tidak ada dalam ajaran Islam namun lebih dikarenakan mereka sendiri ilmunya belum sampai ke sana atau pernah membaca langsung sendiri pada sumber primer kitab-kitab haditsnya. Naudzubillah min dzalik..

dscn0970

Alhasil, marilah kita tuntut ilmu sampai ajal menjelang. Dan berhati-hatilah di dalam mengikuti kajian-kajian keIslaman, jangan sampai terjerumus pada pemahaman tentang Islam yang keliru, yang kaku dan keras. Yang paling aman adalah selain sebagai mahasiswa di kampus jadilah santri di Pesantren-Pesantren yang terdapat di kota tempat kamu semua menimba ilmu. Semoga tulisan ini bermanfaat dan membawa inspirasi samawi ke dalam hati kita semua, amiin. Oh iya.. kalau kamu semua ingin berkonsultasi saya juga siap melayani koq, hitung-hitung bagi-bagi ilmu gitu loh…

Selamat berjuang; ingat Tuhanmu selalu, ingat juga pengorbanan orang tua di rumah, jangan keluyuran terus dan yang penting jangan kebanyakan tidur di perantauan… oke dech ma’an najah fi mujahadatikum.

Standar

20 thoughts on “Anak Rimbo Bujang di antara Kampus & Pesantren

  1. widya handi berkata:

    trimakasih, dulu aku sempat menjadi anak asuhnya kan din, aku di kenalkan oleh teman yang bernama mas anang dari blitar sanan kulon, saat aku kenal saat kuliah di unisma malang. kami sempat ikut membantu membangun masjidnya, yang semula cuma terbuat dari bambu, dan pondoknya santri2nya aja masih kayak gubuk. titip salam tahzim saja buat kang din, kang anas, kang anang…. temannya dari pacitan merindukannya. semoga ini menjadi titik terang setelah hampir setahun aku mencari karena ingin kembali menjalin hub silaturahmi.

  2. widya handi prasetya berkata:

    saya mantan anak asuh kiyai syaikudin, tolong mas saya kasih tau no telpon/hp yang bisa saya hubungi ke pondok pesantren attaufiq blitar, tolong mas…..

  3. Galih berkata:

    thanks mas sharing nya…

    aku juga anak rimbo bujang…

    sekarang kul di ugm jogja.

    pulang kampung nanti, kita bangun rimbo bujang biar lebih maju…

    • Sugeng Riyadi Syamsudien berkata:

      ya..itu bagus, yang utama tetap komitmen pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan keep trasedent.😀

  4. Sugeng Riyadi Syamsudien SE, M.S. berkata:

    😀 sebelumnya terima kasih atas komentar semua pengunjung Komunitas Rimbo Bujang.

    Titi: InsyaAllah akad akan dilaksanakan pada bulan November di Masjid Abu Bakar Pondok Pesantren Darussalam Dukuhwaluh Banyumas.

    Ariel: Semoga lulus ujiannya, yang penting persiapkan dirimu dengan berlatih atas soal sebelumnya.

    Gus Moes: “..agar kematian kita kelak, dapat lebih mati lagi.. kematian yang bertabur bunga pertemuan pada Sang Kekasih Sejati; Allah Rabbanaa ..”.

  5. aril berkata:

    mas sugeng, masih ingat sama saya gak? aril yg slalu gokil . saya dulu santri Nurusssalam putra, nama lengkap Zainal Arifin kamar atas,anak didik Ustad Heri, asli Gunungkidul. minta bantuan do’a semoga lolos seleksi CPNS ya tahun ini ya? tankz ya Ustad sugeng, o iya alamat email yang saya tulis salah ya mas.

  6. ipunk berkata:

    yoh ngomong opoae terserah lah bang,.,waktune bakar2 ki, warunge mbak nur ketoke jek bukak kae,trus py enake??

    undangane jo lali bang nspa i undang kabeh!!!!

    • Sugeng Riyadi Syamsudien, SE MSI berkata:

      …😀 he he he ya udut tho Poenk. Gimana hasil kursusmu? wah pasti tambah cerdas.😦 wingi pondok kelebonan ngilam maneh, dua hape menjadi korban.. dan itu adalah milikku.😦 hiks hiks hiks.. tapi paling kuwi coro ben iso ganti hape yach?

  7. ardiawan berkata:

    Assalamu’alaikum..
    masih dinurussalam kah..???

    semoga di nurussalam makin banyak santri2 yang melek tekhnologi shg mereka isa ngebuat foru online wat sharing keagamaan..

    syukron katsiron…
    Wa’alaikumussalam

  8. sugeng riyadi berkata:

    Leres Kang Mas Abimanyu… Segala puji hanya bagi Allah SWT, sementara sang al-faqir ini hanyalah sahaya yang diperjalankan oleh qudrahNya. Ya Allah.. Jadikanlah setiap insan Rimbo Bujang menjadi sosok sahayaMu yang haqul yaqin dalam ketakwaannya. amiin.

  9. abimanyoe berkata:

    hem…alhamdulilah,keren mas..semoga semua itu bermanfaat dan menjadi kebanggan masyarakat rimbo bujang yang mempunyai putra daearah yang berprestasi.amin,

  10. Mardiyanto berkata:

    wah hebat juga… thanks mas atas sharingnya. Aku anak Rimbo yang masih kuliah di Semarang, tepatnya di Undip.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s