Tak Berkategori

Rahn; Gadai Islami


Pengertian Rahn
Pegadaian secara akar kata berasal dari kata gadai yang berarti jaminan (collateral/borg). Dengan adanya tambahan sufik dan prefik pe-an maka pegadaian dimaknai sebagai suatu aktivitas perjanjian (akad) pinjam-meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan utang .
Dalam perspektif hukum Islam, gadai merupakan salah satu kontrak yang identik dengan sebutan rahn. Kata rahn secara etimologis berasal dari masdar kata rahana-yarhanu-rahnan. Secara etimologi Arab berarti الثبوت yang berarti tetap dan lama, selain itu juga dimaknai الحبس yang berarti pengekangan dan keharusan. Sedangkan secara terminologi syari’at, rahn dimaknai penahanan terhadap suatu aset dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut .

Karakteristik yang umum dari akad rahn ini adalah tipikal trust, bahwa atas apa yang diberikan oleh pihak penerima gadai (murtahin) kepada penggadai (rahin) tersebut adalah hutang bukan penukar atas aset yang digadaikan .

2. Dasar Hukum Gadai (Rahn / Borg)
Rahn diaplikasikan berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah yang kemudian ditindaklanjuti oleh para Ulama dengan sejumlah analogi (qiyas) dan beberapa regulasi oleh Pemerintah. Al-Qur’an dalam salah satu redaksinya mensyari’atkan tentang jaminan (rahn) sebagai berikut:
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. dan barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. Al-Baqarah (2):283.

Rasulullah SAW sendiri dalam beberapa hadits dikabarkan mempraktekkan akad ini di dalam hidup beliau. Hadits yang paling populer diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah r.a sebagai berikut:
“Rasulullah membeli makanan pada seorang Yahudi secara kredit dan menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi tersebut” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

“Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan”. (HR Jamaah, kecuali Muslim dan An Nasai).

Landasan ini kemudian dikukuhkan dalam Fatwa DSN No. 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 Juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk rahn diperbolehkan sesuai ketentuan-ketentuan yang termaktub di dalam fatwa DSN tersebut.

3. Syarat dan Rukun Gadai (Rahn)
Adapun guna memenuhi keabsahan transaksi yang akan disepakati maka perlu adanya pemenuhan rukun dari akad transaksi rahn tersebut, yang meliputi :
1. Sighat serah terima (ijab qabul).
2. Orang yang berakad (aqidain).
3. Harta yang digadaikan (marhun).
4. Pinjaman (marhun bih)
Adapun para Ulama mensyaratkan hutang tersebut agar dapat dijadikan dasar gadai adalah: hutang yang tetap dan dapat dimanfaatkan, adanya kejelasan mengenai nominal dan tempo pelunasan. Adapun ketentuan atau persyaratan yang menyertai akad rahn tersebut meliputi :
1. Akad.
2. Marhun Bih (pinjaman).
3. Marhun (aset yang digadaikan).
4. Jumlah maksimum dana rahn dan nilai likuidasi barang yang dirahnkan serta jangka waktu rahn ditetapkan dalam prosedur.
Rahin dibebani upah jasa manajemen atas barang yang terdiri dari biaya asuransi, biaya penyimpanan, biaya keamanan, dan biaya pengelolaan serta administrasi. Syeikh Zainuddin Al-Malibary menyatakan bahwa seluruh aset yang dapat diperdagangkan maka dapat pula digadaikan selama tidak ada unsur-unsur yang dilarang oleh syari’at (riba, gharar, tadlis dan moral hazard lainnya) . Dan apabila terjadi sengketa mengenai marhun bih (hutang) antara rahin dan murtahin maka pihak yang dimenangkan adalah rahin dengan dibawah sumpah. Sebaliknya apabila yang disengketakan adalah mengenai marhun maka ucapan yang terima adalah murtahin dengan dibawah sumpah, dan kedua pihak harus menghadirkan alat bukti yang kuat. Hal ini sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari .
Al-Jazairi mengungkapkan bahwa marhun dapat saja dititipkan kepada kepada pihak ketiga yang dapat dipercaya selain murtahin, sebab yang terpenting dari marhun tersebut adalah unsur keamanan dan kridebilitas .

4. Mekanisme Akad Gadai Syariah
Mengacu pada pedoman konsep di atas, maka pada implementasinya gadai syariah mengembangkan akad-akad transaksi yang digunakan sebagai akad penyempurna, yaitu :
1. Akad gadai qard al-hasan.
2. Akad gadai Ijarah.
3. Akad gadai ba’i muqayyadah.
4. Akad gadai musyarakah amwal al-‘inan.

Dari pedoman tersebut maka mekanisme operasional Pegadaian Syariah dapat digambarkan sebagai berikut: Melalui akad rahn, nasabah menyerahkan barang bergerak yang oleh Pegadaian setelah ditaksir dengan maksimum plafon pinjaman sebesar 90% dari nilai taksiran marhun. Kemudian marhun disimpan dengan tempat dan perawatan khusus. Akibat yang timbul dari proses tersebut adalah timbulnya biaya-biaya yang dibebankan kepada nasabah sesuai jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak.
Jika nasabah sudah tidak mampu melunasi hutang atau hanya mampu membayar upah jasa simpanan marhun, maka Pegadaian Syariah akan melakukan eksekusi barang jaminan dengan cara dijual lelang. Selisih antara nilai penjualan dengan pokok pinjaman, jasa simpan dan pajak merupakan uang kelebihan yang menjadi hak nasabah. Nasabah diberi kesempatan selama satu tahun untuk mengambil uang kelebihan, namun jika dalam satu tahun ternyata nasabah tidak mengambil uang tersebut, Pegadaian Syariah akan menyerahkan uang kelebihan kepada Badan Amil Zakat sebagai ZIS .

5. Aktivitas Lelang (Auction)
Lelang adalah adalah penjualan barang yang dilakukan di muka umum termasuk melalui media elektronik dengan cara penawaran lisan dengan harga yang semakin meningkat atau harga yang semakin menurun dan atau dengan penawaran harga secara tertulis yang usaha mengumpulkan para peminat . Lelang yang lazim diaplikasikan tersebut adalah model Dutch Auction, yaitu penawaran penjualan barang yang dibuka dari harga terendah hingga harga tertinggi kepada calon pembeli.
Berbeda dengan yang ajarkan dalam syari’at Islam, lelang yang diterapkan justru dibuka dengan harga tertinggi yang kemudian terus menurun hingga diberikan kepada calon pembeli kepada pembeli dengan tawaran tertinggi yang disepakati penjual. Model lelang ini oleh Ulama dipandang lebih sesuai dengan syari’at Islam .
6. Berakhirnya Akad Rahn
Akad rahn akan berakhir dengan beberapa ketentuan, antara lain :
1. Barang (agunan) telah diserahkan kembali kepada pemiliknya.
2. Rahin telah melunasi hutangnya.
3. Dijual dengan perintah hakim atas perintah rahim.
4. Pembebasan hutang dengan cara apapun, meskipun tidak ada persetujuan pihak rahin.
Jika marhun kemudian mengalami kerusakan yang disebabkan oleh murtahin maka murtahin wajib mengganti marhun tersebut. Namun jika bukan disebabkan oleh murtahin maka tidak wajib menggantinya dan piutangnya tetap menjadi tanggungan rahin. Dan jika rahin meninggal atau mengalami pailit maka murtahin lebih berhak (preferen) atas marhun daripada semua kreditur. Apabila hasil penjualan marhun tidak mencukupi piutangnya, maka murtahin memiliki hak yang sama bersama para kreditur terhadap harta peninggalan rahin .

Standar

One thought on “Rahn; Gadai Islami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s