Tak Berkategori

Uang; Mesiu Neo Imperialisme


sunni
Uang dalam perekonomian mempunyai arti sangat penting. Ketidakadilan alat ukur itu, karena instabilitas nilai tukar, mengakibatkan perekonomian suatu bangsa, bahkan dunia, tidak berjalan pada titik keseimbangan. Akibatnya, akan makin sulit merealisasikan keadilan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Inilah yang menimpa sistem uang kertas yang kita anut saat ini.

Uang kertas, yang pada dasarnya hanya berupa kertas, ternyata tidak memiliki nilai intrinsik yang murni. Akibatnya, fluktuasi nilai tukarnya terus terjadi, baik karena gangguan sektor riil seperti korupsi dan bencana alam maupun gangguan sektor moneter yang berpeluang menciptakan sistem pengisapan.

Potret ketimpangan ekonomi yang melanda negara-negara dunia ketiga akibat penerimaan mereka terhadap sistem mata uang kertas (fiat money) menjadi bukti nyata akan hal itu. Fiat money adalah penggunaan mata uang berbasis kertas yang diterbitkan pemerintah suatu negara tanpa disokong logam mulia (emas dan perak).

Penggunaan fiat money baru dikenal pada abad ke-20 ini. Penandanya, saat sistem Bretton Woods ambruk pada 1944. Emas yang selama ribuan tahun menjadi standar mata uang (classical gold standard) diganti dengan sistem kurs mengambang (flexible exchange rate) yang sama sekali tak lagi bersandar pada emas. Dunia kemudian hanya mengenal satu mata uang kertas yang mendominasi perdagangan dan menjadi pilihan untuk mengisi cadangan devisa oleh berbagai negara, yaitu dolar AS.

Perombakan sistem moneter standar emas dunia adalah hasil rekayasa kapitalisme dalam rumusan imperialisme moneter melalui IMF dan Bank Dunia. Dengan fluktuasi sedikit saja, maka hancurlah sistem keuangan dunia. Lebih-lebih votalitas kurs ini bisa dipermainkan oleh beberapa orang atau lembaga saja di dunia ini.

Penggunaan uang kertas sebagai alat transaksi moneter internasional itu telah membuka ruang bagi munculnya penjajahan baru dan salah satu biang ketidakadilan moneter di dunia. Melalui mata uang kertas, sebuah negara dapat menjajah, menguasai, bahkan melucuti kekayaan negara lain. Negara yang memiliki nilai mata uang kertas lebih kuat menekan negara lain yang mata uang kertasnya lebih lemah.

Contoh nyata penjajahan melalui mata uang itu terlihat dalam penggunaan uang kertas dolar Amerika Serikat (AS) yang diterima oleh 60 persen penduduk bumi. Inilah ironi terbesar dunia saat ini. Dolar yang terdistribusi secara luas menempatkan AS pada tempat istimewa. Melalui dolar-mata uang yang tak berbasis pada emas itu-AS mengeksploitasi dan memajaki warga dunia dengan mengalihkan beban inflasi yang ditanggungnya pada seluruh pemakai dolar di seantero dunia. Negara-negara ketiga didera krisis ekonomi berkepanjangan lantaran harus membayar inflasi yang ditimbulkan oleh penggunaan uang kertas tersebut.

Bukan itu saja. Ketidakadilan juga tersimak saat negara-negara ketiga menyerahkan pelbagai komoditas mereka seperti minyak, kayu, dan kekayaan alam lainnya, sementara AS cukup menukar semua komoditas itu dengan uang kertas yang bisa dicetaknya kapan saja. Sepanjang dolar tetap dipakai dalam pelbagai transaksi moneter internasional, ketimpangan moneter dan krisis ekonomi akan terus melanda negara-negara ketiga.

USD rules the world ini merupakan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan hegemoni dolar AS dalam tatanan sistem keuangan internasional. Seluruh dunia (kecuali Eropa) menggunakan mata uang dolar AS untuk kegiatan bisnis internasionalnya. Sebagian besar negara di dunia menggunakan dolar AS sebagai cadangan devisa untuk menjaga kestabilan mata uang lokal dan untuk juggling agar nilai mata uang lokal bisa dipertahankan dalam nilai tertentu.

Singkatnya, cadangan devisa diadakan sebagai alat untuk menjaga keseimbangan supply & demand dolar AS dengan tujuan mempertahankan harga/nilai mata uang lokal. Dengan adanya cadangan dolar AS, Bank Indonesia, misalnya, dapat melakukan intervensi di pasar dan mempertahankan rupiah pada tingkat tertentu.

Mengapa negara-negara menyimpan cadangan devisa dalam bentuk dolar AS? Untuk menjawab hal ini, kita perlu menengok kembali ke asal kedigdayaan dolar AS yang masih saja tetap bull terhadap sebagian besar mata uang dunia. Sistem keuangan dunia inilah yang merupakan penyumbang terbesar kejayaan Amerika karena sistem tersebut secara strategis diciptakan hanya untuk kebaikan Amerika, bukan untuk negara lain. Untuk menjelaskan hal ini, kita harus melihat kembali asal lahirnya USD sebagai “mata uang tunggal dunia”.

Bretton Woods, kota kecil di AS, adalah tempat kisah langlang buana dolar AS dimulai, ketika pada 1944 diadakan perjanjian di sana. Pascaperang, sistem keuangan internasional kacau. Masing-masing negara berlomba-lomba mencetak uang untuk membiayai pembangunan kembali negaranya tanpa di-back-up dengan kecukupan cadangan emas. Hiperinflasi akhirnya terjadi (mata uang Jerman pernah sampai 4 triliun marks = 1 dolar AS).

Negara-negara Eropa pun terperangkap dalam resesi. Amerika dan Inggris melakukan inisiatif dalam berbagai pertemuan internasional. Kedua negara pemenang perang ini berebut untuk memenangkan kepentingannya dalam perjanjian tersebut.

Akhirnya Perjanjian Bretton Woods pun ditandatangani oleh 44 negara. Dua butir kesepakatan yang sangat penting adalah terbentuknya IMF dan dolar AS serta poundsterling disepakati sebagai cadangan devisa dari negara penanda tangan perjanjian. Kisah jebakan dolar AS dimulai dari sini.

Dalam sejarah, mata uang emas terbukti diterima sebagai alat moneter universal. Ribuan tahun lamanya masyarakat dunia dari pelbagai peradaban memilih mata uang ini sebagai alat tukar dalam aneka praktik keuangan.

Selama ribuan tahun pula, perdagangan dunia menganut konsep bimetalisme, kebijakan moneter berbasis emas dan perak. Imperium Romawi menggunakan denarius, mata uang berupa koin emas bergambar Hercules bersama dua putranya, Herculyanoos dan Qustantine. Di China dikenal qian, mata uang yang juga berbasis logam.

Jika kita mau terbebas dari ketidakadilan moneter dan krisis ekonomi tersebut, mengapa tidak melirik mata uang emas dan perak?

Sumber:
1. Suara Karya Online

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s