Tak Berkategori

Antara “Anggota Dewan yang Terhormat..” dan Khithah NU 1926


Tahun 2009 memiliki makna yang substansial bagi kehidupan politik di Indonesia. Kompetisi atau sebutkanlah audisi ‘sopir’ rakyat Indonesia tergelar di sana-sini dengan seperangkat event organizer yang tak tanggung-tanggung. Efiora demokrasi ini bukan saja terlihat di alam politik, namun juga menembus jauh keluar dari sekat-sekatnya dan menginfliltrasi ranah pendidikan, hiburan, ekonomi dan sosial antropoligi. Syahwat menjadi ‘anggota Dewan yang terhormat..’ seolah menjadi demam bangsa yang menjangkiti setiap warga negara yang memiliki akses untuk itu. Stigma ‘kutu loncat’ partai, aji mumpung dan inkonsisten atas komitmen ilmiah seolah tak menyurutkan langkah sejumlah hipokrit demi menduduki kursi di parlemen. Fenomena ini mungkin masuk akal, karena konon prestise, kenyamanan kerja dan ratusan juta insentif bruto yang ditawarkan di gelanggang ini sanggup ‘menjamin’ kesejahteraan hidup bagi siapapun yang hidup di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Predikat ‘anggota Dewan yang terhormat..’ benar-benar ‘prospektif’. Dus, pesta demokrasipun tetap berjalan sesuai scedulle bangsa.

Dalam perspektif NU’loghy’ tahun 2009 ini pun menempati makna tersendiri bagi para penggiatnya (nahdliyyin). Ekses infiltrasi political will terlihat memenetrasi hingga merembes jauh ke pusat komandonya. Secara sosial, alhasil pergeseran dan zig-zag isyarat politis para Ulama yang mengasuh Jam’iyyah ini mulai terlihat rabun di mata para jama’ahnya. Bingung dan salah tingkah, adalah sikap yang kerap terbersit secara masif di sanubari umat. Semoga saja pendapat sebagian Ulama yang lain yang menyatakan bahwa kebhinekaan bendera politik Ulama adalah bagian dari proses pendewasaan nalar politik jama’ah adalah benar, semoga saja. Namun setidaknya dari refleksi dua pemilu reformasi sebelumnya, menunjukkan bahwa keterlibatan Ulama jauh di ranah politik justru semakin memudarkan popularitas keteladanan Ulama itu sendiri di hati umat. Selama ini peran tersebut terlihat jelas telah diambil alih oleh kalangan artis dengan geol indahnya dan intertainer ‘penghibur’ lara umat lainnya seperti (KH) Tukul Arwana. Bahkan ironisnya fungsi Ulama sebagai wadah keluh-kesah dan ummah concultative centre dalam hal yang sangat mendasar sekalipun, seperti tauhid harus tergantikan oleh peran (Gus) Ponari dengan batu ajaibnya sebagaimana yang terjadi tepat di jantung kota santri Jawa Timur. Politik, bukan saja melenakan anak bangsa Indonesia, namun juga jauh menembus ke dalam peradaban ilmiah jam’iyyah NU. Nah, sampai di sini ada instrument yang layak disegarkan kembali untuk mengganti kacamata kuda political will warga NU pada musim kampanye ini. Khithah NU 1926.

Secara kultural NU, Khithah 1926 merupakan hukum ‘adat’ NU nan adiluhung yang berfungsi memproteksi jam’iyyah dan jama’ah NU dari eksploitasi dan isme-isme politik praktis. Dan dalam perspektif struktural pun fenomena yang mengemuka tak jauh beda, Khithah 1926 adalah kendali kekang bagi para pengurus NU dari tikungan-tikungan lahwun dunia politik praktis. Tentu sangat menggelikan apabila hingga hari gini, masih terdapat ‘oknum’ struktural yang mengerjakan ‘pr’ partainya di meja kantor NU. Tentu, stabilitas bahtera NU dan misi-misi perjuangannya semestinya tetap menjadi prioritas utama bagi para Ulama dan umatnya.

Khithah NU 1926 tentu bukanlah sesuatu yang resistan dengan lambaian kedudukan ‘anggota Dewan yang Terhormat..’. Prosedur jam’iyyah bahkan telah mengakomodasi keinginan bagi warga NU yang ingin berkiprah di kancah politik praktis. Bahkan, tentu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi jam’iyyah NU apabila terdapat ‘anggota Dewan yang Terhormat..’ dari kalangan kader NU yang jujur dan kredibel dengan khidmah yang penuh kepada rakyat negara ini. Dan untuk menguji berapa jauh nilai-nilai NU’loghy’ itu terpatri di hati para kader jam’iyyah yang kemudian terpilih sebagai ‘anggota Dewan yang Terhormat..’ adalah refleksi tingkat solitaritasnya terhadap misi-misi perjuangan NU itu sendiri.

Akhirnya, ada sebuah ungkapan klasik yang senantiasa diwejangkan oleh para orang tua dahulu kepada anak-anak dan cucunya tentang arti pentingnya eling dan waspada, dalam hal ini patut kita renungkan maknanya; jangan kau jauh berenang ketengah lautan, karena keselamatan itu justru ada di tepi. Khithah NU 1926 adalah pulau ‘keselamatan’ ad-duniawiyyah wal ukhrawiyyah, namun mengarungi segitiga bermudanya birokrasi sebagai ‘anggota Dewan yang Terhormat..’ tentu bukanlah suatu dosa, bukan?.

Standar

2 thoughts on “Antara “Anggota Dewan yang Terhormat..” dan Khithah NU 1926

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s