Tak Berkategori

Angkringan Krapyak 20 Maret 2009



Asap mengepul liar menyapu wajah-wajah hadirin di gerobak yang sarat akan sajian anak negeri itu. Aku sendiri duduk menghadap timur, menaikan sisi kakiku berusaha senyaman mungkin. Gelak tawa, seliweran tangan yang mencomot makanan dan hiruk pikuk dikanan-kiriku seolah tak menggemingkan nanar mataku pada lembar itu.
angkringan
Awalnya seperti yang lainnya, mulut dan fikiranku hanya terhipnotis pada nasi kucing dan ‘mangsa-mangsa’ lambung lainnya. Kertas itu hanya menjadi bungkus lusuh dan kumal bagi makan siangku. Semuanya berjalan begitu cepat, sampai akhirnya sekilas kulihat lafadz penyair dan pemerhati budaya. Namun, untuk kali kedua hatiku pun masih belum lekang dari sinis dan skeptis. Terlalu banyak sudah aku membaca karya-karya sampah dan pikiran-pikiran kosong yang dipublikasikan. Mencoba menawarkan narsisme berpikir kepada publik.

Tapi ini lain, sungguh lain. Ditulis oleh Iman Budhi Santosa, dan aku hanya mendapatkan lembaran terakhir dari pikiran emasnya. Bunyinya begini: “… menyanyikan ‘koor’, mohon banyuan pemerintah, DPR atau lembaga negara lain yang dianggap bertanggungjawab menyantuni rakyat yang sedang menderita. Yang sulit dibayangkan adalah ketika merka (yang nota bene kebanyakan adalah anak-anak SD atau SMP) tiba-tiba melakukan kritik, hujatan serta sindiran model orang dewasa, koran atau televisi. Sebagai ‘juri’ saya jadi menduga-duga. Benarkah anak-anak kita sudah melek politik? Sudah punya pandangan bahwa setiap terjadi masalah di Indonesia ini selalu perlu kambing hitam? Bahwa rakyat selamanya benar, dan pejabat senantiasa salah? Bahwa sekolah harus murah, dan semua anak harus lulus? Bahwa tanpa bantuan pemerintah, masyarakat korban gempa dan tsunami tak mungkin bangkit selamanya?”.

Aku merenungkan kata-kata Mas Budhi di atas sepanjang jalan pulangku ke kompleks Pesantren. Ah.. memang bisa jadi anak-anak itu, adik-adikku itu sudah menjadi boneka bagi orang tua mereka, oleh guru, oleh kondisi kampung halaman, oleh situasi politik praktis, oleh koran dan televisi. Anak-anak ini seolah tidak memiliki kebebasan mengekspresikan dirinya serta mengutarakan aspirasi kekanakan mereka secara lebih otentik.

Semoga saja aku salah, namun demi melihat eksploitasi anak pada media-media dan sejumlah demonstasi aku terlalu takut untuk mempercayai kenyataan. Namun kesan pemperdayaan (dengan ‘p’ bukan dengan ‘b’) sangat ketara pisan, bagaimana ini? Anak-anak itu layaknya loudspeaker yang diperalat oleh mereka yang menguasai pikirannya. Di sekolah, di rumah, di lampu merah jalanan. Mereka telah membungkam kesejatian anak-anak dan dunianya di atas kepentingan-kepentingan orang dewasa.

Karya fikir adalah ijtihad yang sangat dihargai oleh Allah SWT, itulah janjiNya. Hal itulah yang berusaha untuk kupahami dari kesempatan kali ini. Betapa banyak masalah di kanan-kiri kita yang membutuhkan ruang waktu dan pikiran untuk memecahkannya. Atau (huh…) ini semua akibat pandangan nyalangku yang kurang kerjaan mengais dan membaca bungkusan nasi kucingku. Upss..

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s