Tak Berkategori

Aurora Sejarah Desa Kalilandak


Namanya Wirya Suyuth, pawakannya tinggi besar seperti pohon beringin. Kesan angker dan sangar langsung terasa pada sosok yang satu ini dengan riap rambut dan sorot matanya yang tajam. Segudang cerita kesaktian dan keampuhan dilekatkan masyarakat desa pada pria ini. Mbah Wirya Suyuth merupakan tokoh cerita bagi desa Kalilandak pada zamannya. Zaman setelah berlalunya legenda-legenda lain berbagai tokoh desa sebelumnya; Mbah Wangsa Dikrama, Mbah Tunggul Wulung, Mbah Nyai Ronggeng, dan Mbah yang konon makamnya kerap menyemburatkan cahaya kebiruan apabila malam telah menjelang.

Desa Kalilandak. Di wilayah ini seolah tak pernah sepi dari kisah para ksatria desa yang siap melayani masyarakatnya dan bahkan membela mereka. Desa yang relatif dekat dengan pusat kecamatan Purwarja Klampok Banjarnegara. Lokasinya yang berada di sisi urat transportasi Purwokerto-Semarang seolah tak pernah absen dari ekstriksi politik. Belanda, Jepang dan pemberontakan PKI pun pernah mewarnai kondisi sosial budaya dan politis masyarakat Desa Kalilandak.
jengloten

Tokoh-tokoh di atas bukan saja berperan sebagai mubaligh pada masanya, namun juga aktif di dalam mengadakan perlawanan fisik kepada anasir-anasir politis yang terjadi. Ketika itu sejarah pun tidak memungkiri apabila kali Sapi, sebuah sungai di barat desa kerap menjadi ajang pertempuran. Konon apabila pagi tiba mayat-mayat kaum atheis dan kafir kolonial kerap ditemukan mengapung oleh masyarakat dusun Derik dan Jetak di sungai ini.

Menurut tradisi lisan yang ada, desa Kalilandak ini pada dasarnya adalah pusat pemerintahan seorang raja kecil yang bernama Wangsa Dikrama. Penulis menduga bila tokoh ini merupakan lasykar-lasykar Diponogoro yang menyingkir ke utara dari buruan VOC dan antek-anteknya. Kediaman Wangsa Dikrama saat ini telah menjadi lahan wakaf dengan ditandai berdirinya masjid Darussalam di grumbul Gumelar. Masyarakat percaya, bahwa bentang kerajaan kecil itu tergelar dari pegunungan Dieng hingga sungai Serayu perbatasan dengan wilayah Purbalingga. Daerah kekuasaan itu pun akhirnya terpecah-pecah menjadi bagian-bagian desa lain hingga kini; desa Kali Kidang, desa Kali Cacing, desa Kali Winasuh dan desa-desa lainnya.

Tulisan ini didedikasikan untuk sosok agung yang penuh kasih sayang kepada cucu-cucunya. Trah Wangsa Dikrama yang telah meninggal dan dikuburkan di Desa Rimbo Mulyo, Rimbo Bujang. We’ll remember you grandma, Allahummaghfirlaha, warhamha. Amiin.

Standar

6 thoughts on “Aurora Sejarah Desa Kalilandak

  1. Imam sujono berkata:

    Mas Nuwun Sewu sampean anaknya siapa dari desa kalilandak yang mungkin tran ke jambi. Saya sendiri asli kalilandak tepatnya antara gumelar dengan jomblang maturnuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s