Tak Berkategori

Mencari “Khilafiyyah” Islamiyyah di Pesantren


Suatu ketika ada kejadian menarik yang dialami Penulis, saat seorang mahasiswa semester akhir di salah satu Universitas negeri terkenal di kota Yogyakarta disertai dengan dua temannya mendatangi Penulis guna turut terlibat di dalam upaya mendirikan khilafah islamiyyah (Negara Islam) di Indonesia. Pemuda ini terlihat begitu antusias dengan semangat ’45 di dalam menyampaikan maksudnya itu, hal ini terlihat bagaimana ia menjelaskan panjang lebar tentang khilafah Islamiyyah dihadapan Penulis dengan disertai dalil-dalil agama.

“bagaimana Mas?” kalimat tanya ini akhirnya keluar juga sebagai epilog dari semua presentasi yang ia dan teman-temannya sampaikan dihadapan Penulis. Setelah tercenung sejenak Penulis akhirnya angkat bicara. “menarik juga mas..” tutur Penulis sebagai pembuka kata, dengan serentak diikuti anggukan kompak dari ketiga pemuda dihadapan Penulis. “Namun sebelum saya memutuskan, bolehkah saya bertanya hal yang saya ingin lebih ketahui tentang dasar dari semua konsep khilafah yang mas-mas tadi sampaikan?” Jawab Penulis sekaligus bertanya, inipun lantas dijawab mereka dengan anggukan kepala yang hampir serentak.

“Coba sampeyan sebutkan apa syarat sahnya wudlu?” tanya Penulis tanpa tedeng aling-aling. Seolah tersengat listrik, ketiga pemuda dihadapan Penulis terlihat bebarengan meluruskan posisi duduk mereka, saling berpandangan dan menggelengkan kepala secara perlahan. “wah yang itu saya belum mengkajinya mas..” ujar Pemuda yang tadinya bertindak sebagai orator. Sekilas mereka tampak tak enak diri, hal ini tampak dari mimik dan bahasa tubuhnya. “lho..bukannya tadi sampeyan bertiga mengajak saya turut serta di dalam pendirian Khilafah Islamiyyah? Bukankah itu sesuatu yang besar dan bersifat lanjutan?” Penulis mulai mencoba membuka wacana. “lalu bila syarat sahnya wudlu saja tidak mengerti, saya yakin antum bertiga juga tidak mengetahui apa-apa saja syarat sahnya sholat dan seterusnya. Padahal itu lebih wajib dipahami sebelum hal-hal mubah seperti wacana Khilafah itu. Lalu bagaimana dengan sholat dan perlakuan terhadap al-Qur’an kalian selama ini? Bukankah itu mensyaratkan adanya wudlu yang shahih?.
mondok'o

“memang syarat sahnya wudlu apa sih mas?” tanya pemuda yang paling kiri, tampaknya ia merasa risih dengan pertanyaan Penulis. Ia bertanya sembari menata buku-buku yang tadinya ditawarkan kepada Penulis. “sederhana saja koq, guna mengetahui syarat sahnya wudlu dan ibadah-ibadah lainnya..” Jawab Penulis. “apa mas.???.” Jawab mereka serentak dengan antusias ’45 yang sama. “Mondok’o…” Jawab Penulis menutup pembicaraan di siang yang panas itu, sembari tersenyum penuh makna.

***Mondok’o (bahasa Jawa) artinya adalah “..Mengajilah di Pondok Pesantren”.

Standar

12 thoughts on “Mencari “Khilafiyyah” Islamiyyah di Pesantren

  1. santri darussalam berkata:

    ahlan wasahlan di ponpes darussalam…with santri yang gokil-gokil…moga tali silaturrahim kita bertambah erat. kapan ijabe…..?????????he..he..he…

  2. ryo berkata:

    emang bener mas kalau punya cita2 yg gd usahanya jg harus extra & mulai dari yang kecil2 dl. tp lbh baik lg kalau mas sugeng msk ke organisasi itu ( HTI ) supaya bertambah sumber dayanya untuk memperkuat & mengajari orang2 itu supaya semangatnya ga mati gt aj mas. karena org ga akan sanggup melihat sesuatu secara utuh kalau hanya melihat dari satu sisi aj.

    • Sugeng Riyadi Syamsudien, SE M.S.I berkata:

      …whaaaa jangan sebut nama organisasi dong, khan kurang etis. Lagi pula saya memang aktif koq di Hizbut Tahlil Indonesia.😀

  3. titi setiani berkata:

    yups…setuju bangets,apa yang mas adi katakan menurutku bener banget, makanya aku selalu buka blogmu..hanya saja aku lebih menyoroti ke dalam pola komentarmu saja..(maklum aku lagi belajar prilaku)..berhubungan dengan orang lain membutuhkan kecerdasan intelektual, kebesaran hati, dan kearifan. karena masih banyak lagi orang-orang diluar pondok sana yang akan kamu temui, klo kita memberi tau orang yang sudah pinter..gampang, memberi tau orang yang sama-sama mondok..gampang,tapi ketemu orang dengan pola pikir nya sendiri…perlu strategi.jd sama silahkan simpulkan sendiri sudah sejauh mana..kita.stay cool, Alloh bersama kita.

  4. titi setiani berkata:

    wah..wah..pa ustad tambah pinter aja nih..ga salah deh pernah kenal,tapi menurutku mas adi,orang yang semakin tinggi ilmunya itu harus lebih bijak dalam segala hal,jangan sampai mengecap seseorang dengan satu ato dua pertanyaan ato beberapa patah kata tentang hal tertentu sebagai pertimbangan bahwa orang tersebut tidak baik…menurut anggapan kita..so..lebih bijak, dan berhati-hatilah..keep fight, Alloh bersamamu selalu

    • Sugeng Riyadi Syamsudien, SE MSI berkata:

      …ya ayyuhal ikhwan wa akhawat.
      sungguh Islam telah dipetakan oleh para Jumhur Ulama kita (semoga Alloh SWT memuliakan kedudukan mereka) telah memetakan urusan syari’at Islam ke dalam tiga term besar: ibadah, muamalah,dan jinayat.
      Sedangkan konsep negara, hanyalah turunan dari teori-teori muamalah yang berlindung di dalam konsep siyasah al-Islami. Bila kita berkilas balik pada konsep syari’at (ushul fiqh), maka yang tampak adalah universalitas Islam yang terangkum ke dalam konsep Islam itu sendiri yang lazim disebut rukun Islam. Dimana salah satu puncaknya adalah ibadah Sholat. Tanpa lima pilar Islam ini, maka konsep apapun yang mengatasnamakan Islam akan runtuh dan gugur. Lalu bagaimana kita berbicara tentang konsep negara yang merupakan teori turunan dengan menafikan pengetahuan mendasar tentang ushuludin tersebut. Dus, kita pernah diingatkan Imam Ibn Atho’illah bahwa salah satu indikator seseorang yang memperturutkan hawa nafsunya adalah dengan bersegera mengerjakan amalan sunnah (apalagi mubah), namun malas di dalam mengerjakan (dalam term ini adalah memperlajari) amalan yang wajib. So, silahkan antum simpulkan sendiri.

      Wallahu a’lam bisshowab.😀
      Cah Rimbo

    • Sugeng Riyadi Syamsudien, SE MSI berkata:

      ..menarik, progresif dan cenderung ‘berani’ blog mas Poetra. Saya sudah berkunjung. Thanks atas suguhannya..😀

  5. he he he.po kudu mondok to mas?
    tapi apa yang disampaikan sama orang itu salah mas?kok ga bisa jawab rukunya wudhu terus di generalisir salah.masak sakit gigi dan sakit perut ketika saya beli obat sakit gigi,saya disalahin karena belum ngobatin perut saya?🙂 .nek sampean jawabane ngono kui ga apek mas,lebih baik di jelasno sarate sah wudhu kui opo baru jak mbahas liane.karena ini dua hal yang berbeda dan juga wajib dilaksanakan juga.he he he

    • Sugeng Riyadi, SE berkata:

      ..konsep negara dalam Islam jelas ada Kang, tapi tanpa harus menggulingkan NKRI. Generalisir? jelas bukan, nanging riskan. Seperti ungkapan Imam Ghazali, yang perlu kita ‘gawe rame’ sewaktu mbangun rumah itu bukan atapnya, warna cat dindingnya wa ilaa akhirim.. tetapi bagaimana adonan fondasinya. Analoginya sama dengan cerita di atas koq, singkatnya saya senang bila menghadapi seorang pemuda muslim yang memiliki konsep besar namun dia juga telah matang di dalam hal-hal krusial, vital dan pokok di dalam Ajaran Islam.😀 Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s