Tak Berkategori

“MAQASHID AL-SYARI’AH”: Materi Perkuliahan Islamic Building


Pengertian Terminologis Maqashid Al-Syari’ah:
المعانى التى شرعت لها الاحكام
“suatu kandungan nilai yang menjadi tujuan pemberlakuan suatu hukum” .
Maqashidul Al-Syari’ah adalah tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari penetapan suatu hukum yang diturunkan Allah SWT kepada makhluk mukallaf. Dalam konteks tujuan yang dimaksud di atas adalah kemaslahatan umat manusia. Hal ini merujuk kepada ungkapan Imam Syathibi:
الاحكام مشروعة لمصالح العباد
“hukum-hukum disyari’atkan demi kemaslahatan para hamba” .
Setiap penetapan hukum Allah SWT pasti mengandung suatu misi bagi kemaslahatan manusia. Penetapan ini dibagi menjadi dua katagori; Pertama, Perintah Allah SWT yang bersifat jelas (qath’i). Kedua, perintah Allah SWT di dalam Al-Qur’an yang masih samar (zhanni)dan bersifat umum (mujmal), maka ranah ini merupakan wilayah Ulama guna menafsirkannya dengan kompetensi dan kualifikasi yang memadai .

Sejarah Maqashid al-Syari’ah
Maqashidul al-Syari’ah merupakan ruh dari semangat penegakan syari’at Islam. Meski demikian tidak banyak catatan sejarah yang merekam kapan pastinya istilah ini untuk pertama kalinya diistilahkan. Dari literatur yang ada, dikenal adanya dua pendapat yang memperkenalkan istilah al-Maqashid. Pertama adalah Imam Turmudzi r.a, tokoh ini sebelumnya lebih termasyhur sebagai Ulama Hadits. Tokoh hadits ini di dalam sejumlah karyanya terkesan mulai merumuskan term-term Maqashidul al-Syari’ah, hal ini dapat terbaca pada kitab al-shalah wa Maqashiduhu, al-Haj wa Asraruh, ‘Ilal al-Syari’ah, ‘Ilal al-‘Ubudiyyah dan al-Furuq. Pasca tokoh hadits ini kemudian sejarah mencatat kontribusi Imam Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H) di dalam karyanya Ma’khad al-Syara’, berturut-turut kemudian Abu Bakar al-Qaffal al-Syasyi (w. 365 H) dengan karyanya Ushul al-Fiqh dan Mahasin al-Syari’ah; Abu Bakar al-Abhari, al-Baqillani, al-Juwaini, al-Ghazali, al-Razi, al-Amidi, Ibnu Hajib, al-Baidhawi dan seterusnya. Adapun pendapat pertama ini digagas oleh Ahmad Raisuni.
Pendapat kedua adalah menurut versi Yusuf Ahmad Muhammad al-Badawi, Maqashidul Al-Syari’ah dalam hal ini terbagi ke dalam dua fase besar antara sebelum dan sesudah Ibnu Taimiyyah. Pasca Ibnu Taimiyyah kemudian dikenal tokoh-tokoh lanjutannya seperti Imam Ghazali, Ibnu Abdissalam, Najmuddin at-Thufi, dan Imam al-Syathibi. Pada level selanjutnya hingga dewasa ini, maka Imam al-Syathibi adalah tokoh yang dikukuhkan sebagai Bapak Maqashidul Al-Syari’ah sebagai tokoh peletak dasar ilmu Maqasid sistemik dalam karya monumentalnya al-Muwafaqat.

Pembagian Term Maqashid Al-Syari’ah
Parameter kemaslahatan bagi umat manusia adalah ketika unsur-unsur fundamental seseorang telah terjaga. Dalam hal ini terdapat lima indikator kemaslahatan manusia :
1. Hifzh al-Din (keterjagaan akan agamanya);
2. Hifzh al-Nafs (keterjagaan akan jiwanya);
3. Hifzh al-Nasl (keterjagaan akan keturunannya);
4. Hifzh al-Maal (keterjagaan akan hartanya);
5. Hifzh al-Aqli (keterjagaan akan daya intelektualnya).

Dalam rangka stratafikasi hukum, kelima indikator di atas kemudian terbagi ke dalam tiga klasifikasi tujuan penetapan hukum:
1) Maqashid al-Dharuriyyat
Maqashid al-Dharuriyyat adalah sesuatu yang harus ada demi keberlangsungan hidup dan kehidupan manusia (primer), bila hal ini tidak terpenuhi maka akan berakibat kelabilan bagi kehidupan seorang manusia. Maqashid al-Dharuriyyat meliputi kelima indikator pokok (hizhfu al-din, hizhfu al-nafs, hizhfu al-nusl, hizhfu al-maal, hizhfu al-aqli ) sebagai syarat terciptanya kemaslahatan hidup dan kehidupan seseorang manusia. Model operasional Maqashid al-Dharuriyyat diaplikasikan ke dalam kehidupan manusia secara tertib sesuai dengan stratafikasi urutannya.
Terdapat dua metode guna menjaga keberlangsungan Maqashid al-Dharuriyyat, yaitu:
(1) Perspektif adanya (min naniyyati al-wujud), yaitu dengan cara menjaga serta memelihara berbagai hal guna dapat melestarikan keberadaanya.
(2) Perspektif tidak adanya (min naniyyati al-adam), yaitu dengan cara mencegah berbagai hal yang menyebabkan ketiadaannya.
2) Maqashid al-Hajiyyat
Maqashid al-Hajiyyat adalah upaya-upaya lanjutan dari Maqashid al-Dharuriyyat dengan menjadikannya lebih baik lagi (sekunder), intinya adalah guna menghilangkan kesulitan pasca terpenuhinya Maqashid al-Dharuriyyat. Ketiadaan Maqashid al-Hajiyyat tidak akan mengancam eksistensi lima indikator pokok Maqashid al-Syari’ah, namun saja akan berpotensi menimbulkan kesukaran dan kerepotan di dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini dapat mengangkat term rukhshah, contohnya adalah menjamak dan mengqashar shalat bagi musafir.
3) Maqashid al-Tahsiniyyat
Maqashid al-Tahsiniyyat bertujuan demi kesempurnaan pemeliharaan lima unsur pokok Maqashid al-Syari’ah. Manifestasinya adalah berupa kebutuhan penunjang peningkatan martabat seseorang sesuai dengan derajatnya baik dalam kehidupan masyarakat maupun di hadapan Allah SWT.

 Motif Maqashidul Al-Syari’ah Menurut Imam Al-Syathibi.
Maqashidul Al-Syari’ah oleh Imam Syathibi dikatagorikan menurut dua perspektif; pertama, qashdu al-syari’ (maksud pembuatan syari’at) dan kedua, qashdu al-mukallaf (tujuan dibebaninya syari’at). Qashdu al-syari’ sendiri kemudian diklasifikasikan ke dalam empat motif:
1) Wadh’i al-Syari’ (guna menetapkan hukum), dimana tujuannya adalah mengambil kemaslahatan dan menghindari kemudaratan (jalbul mashalih wa dar’ul mafasid) atau ringkasnya adalah guna menciptakan kemaslahatan umat manusia. Term ini kemudian melahirkan tiga katagori level kebutuhan sebagaimana disebutkan di atas (dharuriyyah, hajiyyat dan tahsiniyyat).
2) Wadh’i al-Syari’ah lil Ifham (maksud ditetapkannya hukum adalah guna dapat dipahami).
3) Wadh’i al-Syari’ah li al-Taklifi bi Muqtadhaha (motif penetapan syari’at adalah guna pelaksanakan taklif sesuai dengan tuntutannya).
4) Dukhul al-Mukallaf Tahta Ahkam al-Syari’ah (melibatkan mukallaf di bawah hukum-ukum syari’at). Tujuannya adalah menjadikan manusia sebagai hamba Allah SWT yang ikhtiyyaran dan bukan idthiraran. Modusnya adalah dengan mengeluarkan hamba dari ajakan hawa nafsu kepada wilayah ketundukan dengan melaksanakan ibadah).

 Kesimpulan
Ajaran Islam secara praktis disyari’atkan guna memperjuangkan keberlangsungan ke lima indikator Maqashid al-Syari’ah ini sebagai misi utamanya guna terciptanya suatu kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Dalam redaksi lain disebutkan bahwa tujuan pembuatan syara’ dalam menetapkan hukum berakhir pada kepentingan manusia, yaitu untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghilangkan kemafsadatan bagi mereka sebagai mukallaf atau hamba-hamba Allah SWT yang shaleh.

SUMBER-SUMBER HUKUM DALAM AJARAN ISLAM

Dalam perspektif wacana fikih, sumber-sumber hukum di dalam ajaran Islam lebih dikenal sebagai مقصادرالشرعة atau أصولالإحكام, dan disebut juga عدلّة الإحكام. Sumber-sumber hukum di dalam ajaran Islam haruslah sesuatu yang qath’i (bersifat pasti), sehingga tidak bisa hukum diambil hanya dari zhann (persangkaan) saja sebagai suatu prinsip dasar (الأصول الكلّيّة) . Pada prakteknya sumber-sumber hukum Islam oleh para Ulama di bagi ke dalam beberapa katagori:
1. Yang disepakati oleh seluruh Ulama, yaitu: Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
2. Yang disepakati oleh mayoritas (jumhur) Ulama, yaitu: Ijma’ dan Qiyas.
3. Yang menjadi perdebatan dikalangan Ulama, yaitu: ‘urf (tradisi), istishhaab (pemberian hukum berdasarkan keberadaannya pada masa lampau), istihsaan (anggapan baik tentang suatu hukum), mashlahah mursalah (pencetusan hukum berdasarkan prinsip kemashlahatan secara bebas), syar’u man qablanaa (syari’at kaum sebelum kita), madzhab shahabat. Dan sebagian kemudian menambahkan sadd al-dzaraa’i (sikap antisipatif), ijma’ ahli madinah, al-akhdz bi aqall maa qiil (mengambil seminimal pendapat atau batasan yang diungkapkan) dan istiqra’ (survei induktif).

1. القرأن الكريم (AL-QUR’AN AL-KARIIM)
Dalam ajaran agama Islam, Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber hukum. Secara harfiah Al-Qur’an berasal dari kata قرأ yang artinya bacaan. Sedangkan secara terminologis Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT berbahasa Arab sebagai mukjizat yang diturunkan kepada RasulNya, Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril yang tertulis di lembar-lembar yang teriwayatkan kepada umat Islam secara mutawatir serta membacanya mengandung nilai ibadah. Menurut jumhur Ulama, Al-Qur’an adalah suatu kitab suci yang tersusun ke dalam 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat.

ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
“Kitab (Al-Qur’an), ini tidak ada keraguan didalamnya; sebagai pedoman bagi mereka yang bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 1-2).

Secara garis besar, hukum-hukum yang terdapat di dalam Al-Qur’an dapat dikelompokkan kedalam tiga bagian. Pertama, hukum-hukum yang berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan), yaitu kaidah-kaidah yang berhubungan dengan iman kepada Allah SWT, para malaikat dan RasulNya. Pembahasan ini kemudian disebut dengan disiplin ilmu Kalam (Ushuludin/Tauhid). Kedua, hukum-hukum yang berkaitan dengan akhlaq (etika), yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan perilaku hati yang mengajak manusia untuk bertingkah-laku mulia dan berbudi luhur. Ini adalah pembahasan ilmu akhlaq (tasawwuf). Ketiga, hukum-hukum yang berkenaan dengan amaliyyah (tindakan praktis), yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan semua tindakan yang dilakukan oleh manusia secara nyata, meliputi ucapan serta perbuatan yang berhubungan dengan perintah, larangan dan penawaran yang terdapat dalam Al-Qur’an. Inilah yang kemudian menjadi pembahasan ilmu fikih.
Sedangkan dari bidang pembahasan, maka secara garis besar maka tema Al-Qur’an oleh para Ulama dibagi ke dalam tema-tema berikut:
1. Tauhid/Akidah;
2. Ibadah (tata-cara hubungan antara manusia dengan Allah SWT)
3. Sejarah (tarikh);
4. Muamalah (hubungan antar manusia);
5. Syari’at (hukum-hukum);
6. Janji dan ancaman;
7. Futurist (gambaran masa depan umat manusia);
8. Fenomena-fenomena alam.

Mengambil hukum dari Al-Qur’an bukanlah sesuatu hal yang sederhana. Seseorang haruslah memiliki kemampuan mendasar guna menjabarkan makna-makna yang terkandung didalamnya. Terlebih lagi bila hukum yang akan digalinya tersebut akan diberlakukan terhadap orang lain ataupun kepada masyarakat luas. Untuk menggali hukum tersebut, setidaknya seseorang harus menguasai sejumlah disiplin ilmu berikut ini:
1) Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang membahas cara baca (makhraj) atas huruf-huruf hijaiyyah dan hukum bacaan-bacaan yang terdapat di dalam naskah Al-Qur’an.
2) Ilmu Qira’ah, yaitu ilmu pengetahuan yang membahas ragam bacaan Al-Qur’an. Terdapat beberapa macam klasifikasi qira’ah, antara lain: mutawaatir, masyhuur, ahaad, syadz, maudhu’, mudraj. Sedangkan dalam perspektif Imam Qira’ah, terdapat
3) Ilmu tentang Ayat-Ayat Muhkamaat dan Mutasyaabihaat; yaitu ilmu yang membahas ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai-nilai hukum pasti/qath’i (muhkamat) seperti hukum tentang sholat, zakat, berbuat baik terhadap sesama dan lain-lain. Sedangkan ayat mutasyabihaat adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang membutuhkan takwil/personifikasi di dalam pemaknaannya, seperti: tangan Allah, maka yang dimaksud adalah kekuasaan Allah; Allah bersinggasana di arasy, maka yang maksud adalah Allah berkuasa atas arasy; dan lainnya.
4) Ilmu Asbaab Al-Nuzuul;
5) Ilmu tentang Nasikh Mansukh;
6) Ilmu Alat (Nahwu, Sharaf, Balaghah, Mantiq dan Bayan);
7) Ilmu Muhasabah Al-Qur’an;
8) Ilmu tentang Rasm Al-Qur’an;
9) Ilmu tentang ayat Makkiyyah dan Madaniyyah;
10) Ilmu tentang Tafsir Al-Qur’an.

2. AL-SUNNAH
Sumber hukum ke dua di dalam ajaran Islam adalah al-Sunnah. Kebenaran yang datang dari Muhammad Rasulullah telah dijamin oleh Allah SWT, sehingga mematuhinya adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Legalisasi sunnah ini sebagaimana ketetapan Allah SWT di dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisaa’ : 59, QS. An-Nisaa’ : 64, QS. An-Nisaa’ : 69, QS. An-Nisaa’ : 79, QS. Al-Ahzab : 36, QS. Ali Imran: 31).
Al-Sunnah secara harfiah berarti “cara, adat istiadat, kebiasaan hidup” yang mengacu pada perilaku Nabi SAW sebagai teladan; sunnah sebagian besar didasarkan pada praktek normatif masyarakat pada zamannya . Sunnah yang dimaksud disini adalah pengertian menurut ushul fiqh, yaitu sebagai sumber pengambilan hukum, bukan dalam perspektif fiqh yang memaknai sunnah sebagai suatu ibadah yang apabila dikerjakan mendapatkan akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mengapa, bukan itu. Adapun pembagian al-sunnah didasarkan kepada tiga katagori berikut :
1. Sunnah qauliyyah, yaitu perkataan-perkataan Rasul. Sunnah ini seperti sabda-sabda beliau yang terdapat pada matan hadits-hadits.
2. Sunnah fi’liyyah, yaitu perbuatan-perbuatan Rasul dalam kesehariannya.
3. Sunnah taqririyyah, yaitu sikap diam Rasul terhadap sesuatu yang dilakukan oleh para sahabat di hadapan beliau, atau tidak dihadapan beliau namun beliau mengetahuinya. Sikap diam Rasul diartikan bahwa beliau tidak mengingkari kebenaran perbuatan para sahabat tersebut karena sangat tidak mungkin Rasul akan tinggal diam apabila menyaksikan suatu kekeliruan atau kemungkaran di tengah-tengah kalangan para sahabatnya.
Sedangkan fungsi al-sunnah sendiri adalah sebagai berikut:
1. Al-Sunnah sebagai pengukuh dan penguat hukum dalam Al-Qur’an.
2. Al-Sunnah sebagai interpretasi (mubayyin) Al-Qur’an.
3. Al-Sunnah sebagai argumen ternaskhnya Al-Qur’an.
4. Al-Sunnah sebagai penetap hukum baru.
Sedangkan sebagai suatu sumber hukum, maka pengambilan suatu keputusan hukum berdasarkan al-sunnah seseorang mujtahid haruslah menguasai sejumlah ilmu yang dibutuhkan guna membedah al-sunnah tersebut, yaitu:
1. Ilmu Mustholah Hadits (membahas tentang tingkat kebenaran matan, kualitas perawi dan sanad hadits).
2. Ilmu Asbaab Al-Wuruud; (sebab-sebab timbulnya sunnah)
3. Ilmu tentang Nasikh Mansukh;
4. Ilmu Alat (Nahwu, Sharaf, Balaghah, Mantiq dan Bayan);
5. Ilmu Muhasabah Al-Hadits;
6. Ilmu tentang Rijalul Hadits;
7. Ilmu tentang Tafsir Al-Hadits.

3. IJMA’
Dalam perspektif etimologi Ijma’ memiliki dua makna. Pertama, suatu ketetapan hati guna melaksanakan sesuatu. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an:
(يونس:٧١) فَاجْمِعُوا أَمْرُكُمْ
“Maka tetapkanlah hatimu dalam urusanmu”. (QS. Yunus : 71)
Kedua, ijma’ bermakna kesepakatan. Hal ini sebagaimana dimaksud oleh Al-Qur’an di dalam surat Yusuf ayat 15. Sedangkan secara terminologis, menurut Imam Ghazali ijma’ adalah kesepakatan umat Muhammad SAW secara khusus atas hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Ijma’ hanya dapat dilakukan oleh para mujtahid, kecuali permasalahan yang bersifat ma’lum dharuri saja maka kalangan awan dapat menyelenggarakannya.
(رواه ابن ماجه) لَا تَجْتَمِعُ أُمَتِى عَلىٰ ضَلَالَةِ
“Umatku tidak akan bersepakat atas suatu kesesatan” (HR. Ibn Majah)
Secara historis, masa perkembangan ijma’ terbagi dalam empat fase:
1) Masa Sahabat.
2) Masa Tabi’in.
3) Masa Mujtahid.
4) Masa Fukaha Madzhab.
Sedangkan syarat-syarat ijma’ adalah sebagai berikut ini:
1) Adanya kesepakatan/konsensus seluruh ulama.
2) Ijma’/konsensus haruslah melibatkan beberapa ulama mujtahid.
3) Konsensus dilakukan pada suatu masa/waktu.
4) Konsensus diaplikasikan dalam bentuk verbal dan aksi nyata.

4. QIYAS
1. ijma’
2. qiyas
3. istishhaab
4. al-akhdzu bi aqalli maa qiil
5. istiqra’
6. `urf
7. Istihsaan
8. Mashlahah mursalah
9. Qaul shahabat
10. Syar’u man qablanaa
11. Sadd al-dzara’

III. PANDANGAN DUNIA ISLAM (ISLAMIC WORLD VIEW)
Dalam perspektif pengamalan, ajaran Islam senantiasa menekankan harmoni dan (adil/proporsional) di dalam kehidupan manusia. Harmoni yang dimaksud adalah keseimbangan umat Islam di dalam berkiprah-tujuan di dalam hidupnya, yaitu kesuksesannya urusan dunia dan akhiratnya. Hal ini penting mengingat umat Islam adalah bagian dari komunitas manusia yang posisinya berada di antara Allah SWT sebagai penciptanya dan alam semesta sebagai tempat umat manusia untuk mencari ma’isyahnya.
Relasi-relasi di atas dapat diilustrasikan sebagaimana deskripsi berikut ini:

Sedangkan secara garis besar, sebenarnya setiap manusia akan melalui fase-fase yang mana setiap fasenya akan saling terkait satu dengan lainnya.

Dari rangkaian berbagai alam yang akan dilalui oleh manusia, maka alam dunialah tempat yang paling berpengaruh bagi nasib yang akan dialaminya kelak pada alam berikutnya. Terminal akhir dari kehidupan dunia akan terhenti pada Alam Akhirat, dimana manusia akan menempati salah satu dari dua tempat; syurga atau neraka. Fenomena inilah kemudian yang memotivasi umat manusia (kaum muslimin khususnya) untuk berkompetisi di dalam kebaikan dan ketaatan kepada Rabbnya. Dengan bertakwa dan beramal shaleh maka Allah SWT telah memberikan jaminan kehidupan yang sejahtera baginya. Namun demikian bukan berarti bahwa anugerah tersebut hanya dapat diperoleh dengan beribadah habluminallah an sich. Hal ini tentu bertentangan dengan ajaran pokok agama Islam yang lainnya yaitu zakat dan haji, sebab kedua ibadah wajib tersebut mensyaratkan adanya harta bagi pengamalnya. Dus, mencari harta benda duniawi ternyata adalah wajib bagi umat Islam sebagai bagian perintah agama.

 Triangulasi Allah SWT-Manusia-Alam
 Konsep tentang Kehidupan Dunia
 Konsep tentang Kehidupan Akhirat

بَاكِرُوْا فِى طَلَبِ الرِّزْقِ والحَوَائِجِ فَاِنَّ الْغُدُوْ بَرَكَةٌ وَنَجَاحٌ
“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat berkah dan keberuntungan”. (HR. Imam At-Thabrani dan Al-Bazzar).

وَابْتَغِ فِيْمَا اٰتٰكَ اللهُ الدَّارَالْاَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنَ اللهُ اِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ
(القصص:٧٧)فِى الْاَرْضِى إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ المُفْسِدِيْنَ
“dan carilah apa yang yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (bahagian) negeri akhirat, dan janganlah kamu kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia. Dan berbuat baiklah (kepada sesama) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash : 77).

طَلَبُ الحَلاَلِ فَرِيْضَةٌ بَعْدَ الفَرِيْضَةِ
“Mencari rezeki yang halal adalah wajib setelah melaksanakan yang ibadah fardhu (seperti shalat, puasa dan lain-lain)”. (HR. Imam At-Thabrani dan Imam Baihaqi).

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُو فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ الجمعة ١٠
“Maka apabila telah terlaksananya shalat, maka menyebarlah kamu semua di muka bumi dan carilah karunia Allah”. (QS. Al-Jum’at : 10).

إِنَّمَا الْاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ إمْرِئٍ مَانَوَى.
“Sesungguhnya (nilai sempurna bahkan sahnya) suatu aktivitas itu (tergantung) dengan niatnya”. (HR. Muttafaqun ‘alaih).

لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِاَخِرَتِهِ وَلَا اَخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ حَتّٰى يُصِيْبَ مِنْهُماَ جَمِيْعًا. فَاِنَّ الدُّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى الْاَخِرَةِ
(رواه إبن عساكر)وَلَا تَكُوْنُوْا كَلَّا عَلَى النَّاسِ
“Bukanlah menjadi manusia terbaik diantaramu mereka yang meninggalkan (rezeki) dunia karena mengutamakan akhirat, dan (sebaliknya) manusia yang mencari (rezeki) dunia (saja) dan tidak menuntut (kebahagiaan) akhirat, hendaklah ia meraih keduanya (dunia dan akhirat secara integral). Karena sesungguhnya (aset) dunia itu dapat menyampaikan keperluan akhirat, dan janganlah kamu semua menyandarkan (mengandalkan) hidupmu dari (pemberian) orang lain”. (HR. Imam Ibnu Asakir).

اِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِى رَوْعِى اَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا اَلَا فَاتَّقُوْااللهَ. وَاجْمِلُوْا فِى الطَّلَبِ. وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ اَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِى اللهِ فَاِنَّهُ لَايُدْرَكُ مَاعِنْدَ اللهِ اِلَّا بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruh Qudus (Malaikat Jibril) telah membisikkan ke dalam benakku bahwa sesungguhnya para manusia tidak akan diwafatkan sehingga disempurnakan seluruh rezekinya. Oleh karena itu hendaklah kamu sekalian bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu (profesi/karirmu). Apabila rezeki itu datang terlambat (sulit), janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah hanya dapat diraih (hanya) dengan ketaatan kepadaNya ”. (HR. Imam Abu Dzar dan Imam Hakim).

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s