Dalam geliat perekonomian, keberadaan perbankan menempati posisi strategis di dalam memobilisasi uang yang beredar. Sedangkan uang sebagai refleksi kegairahan ekonomi dapat diibaratkan darah yang mengalir membawa sejumlah zat gizi dan vitamin ke sekujur tubuh manusia, di sini, perbankan memegang fungsi jantung yang bertugas memacu aktivitas ekonomi dalam suatu kawasan tertentu. Semakin sehat ‘jantung’ ekonomi, maka semakin ‘sehat’ pula kondisi perekonomian di kawasan tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin ‘lemah’ fungsi perbankan maka hal itu secara ekuivalen mencerminkan lesunya aktivitas pada suatu wilayah ekonomi tertentu. Alhasil, uang laksana darah bagi ekonomi dan perbankan berfungsi sebagai jantungnya.

Bank Islam, atau lembaga yang menjalankan sistem usaha keuangan yang mirip dengan operasional perbankan syari’ah modern dalam kesejarahannya dicatat kemunculan untuk pertama kalinya adalah lembaga bayt al-māl . Lembaga ini dirintis semenjak Nabi Muhammad SAW tengah mendakwahkan ajaran Islam pada masyarakat Madinah. Lembaga keuangan pertama ini resmi diselenggarakan pada tahun ketujuh pasca hijrahnya beliau berserta para sahabatnya . Sebagaimana fungsi utama perbankan, maka bayt al-māl merupakan rintisan lembaga yang melakukan aktivitas pendanaan (funding), pembiayaan (financing) dan jasa keuangan lainnya pada zaman Rasulullah SAW . Akar kesejarahan bayt al-māl (rumah harta) ini kemudian pada periode selanjutnya (masa khalafa al-rasyidīn dan dinasti-dinasti Islam). Mannan (1997) mengklasifikasikan lembaga bayt al-māl ini ke dalam tiga katagori lembaga keuangan berikut ini :
1. Bayt al-Māl al-Khaṣ, adalah lembaga perbendaharaan khalifah yang mengelola aset istana dengan sumber pendapatan dan pengeluaran yang khusus. Lembaga milik khalifah ini dialokasikan bagi pengeluaran pribadi khalifah, dana pensiun pejabat istana keluarga khalifah, biaya gaji bagi pasukan khusus pengawal istana dan juga sebagai sumber dana untuk membiayai hadiah khalifah kepada tamu kerajaan yang melakukan kunjungan ke istana.
2. Bayt al-Māl, adalah semacam bank negara yang mengelola dana umat bagi penyelenggaraan kerajaan. Meski belum beroperasi sebagaimana perbankan modern dewasa ini, namun secara umum telah menjalankan fungsi-fungsi utama perbankan sebagaimana telah disebutkan di atas. Lembaga Bayt al-Māl dikelola langsung pengawasan administrasinya pada tingkat pusat oleh khalifah yang berkuasa dan gubernur pada tingkat propinsi. Pejabat kerajaan ini dalam prakteknya memiliki otoritas untuk mengumpulkan dan mengelola serta menyalurkan dana yang ada, lazimnya hal ini diselenggarakan pada pusat-pusat pemerintahan baik pada tingkat pusat maupun propinsi. Lembaga Bayt al-Māl ini saat ini identik dengan Bank Umum Milik Negara.
3. Bayt al-Māli al-Islami, adalah lembaga keuangan publik milik seluruh warga kerajaan, maksudnya sumber dana dan peruntukannya adalah semata-mata untuk kesejahteraan dan fasilitas masyarakat secara umum. Lembaga keuangan publik ini menerima beberapa katagori pendanaan (financing) dari seluruh warga negara tanpa kecuali, dalam hal ini berupa zakat, infaq dan ṣodaqoh dari para muzakki dan agniya’. Selain itu lembaga ini juga mengelola aset gamimah dan fa’i dari devisi angkatan bersenjata, serta kharaj dan jizyah dari warga kerajaan non muslim. Lembaga ini oleh khalifah yang berkuasa dikelola melalui para qaḍi. Qaḍi adalah para Ulama yang diberi otoritas untuk menentukan status hukum suatu perkara, di Indonesia lembaga dapat diidentikan dengan Majelis Ulama Indonesia, para qaḍi ini penugasannya ditunjuk langsung oleh pihak kerajaan berdasarkan kecakapan pengetahuan agamanya. Guna memudahkan pelayanannya, maka lembaga Bayt al-Māli al-Islami ini lazimnya berkantor pada setiap masjid jami’ baik pada tingkat ibu kota kerajaan maupun pada tingkat propinsi di seluruh wilayah kekuasaan kerajaan.

Pada bab pertama ini nantinya akan dikemukakan bagaimana Bayt al-Māl ini kemudian berkembang sebagai embrio bagi modernisasi lembaga keuangan hingga rentang abad ini. Disini penulis akan mencoba menguraikan bagaimana keterkaitan benih-benih awal lembaga keuangan dalam Islam di jazirah Arab hingga masuk ke dalam sistem keuangan di negara Indonesia, dalam hal ini berikut konsep-konsep dasar dan teknis matematisnya. Dus, terma yang menjadi fokus utama dalam tulisan ini adalah mengungkap secara komprehensif sejumlah konsep perbankan dan konsep ekonomi menurut persepsi dan perspektif ajaran Islam.

Islam dan Masalah Ekonomi
Islam adalah agama samawi terakhir yang diturunkan sebagai pedoman hidup manusia hingga menjelang tibanya hari kiamat, yaitu hancurnya alam semesta ini. Adapun ajaran Islam sendiri merupakan perangkat nilai yang mengatur secara lengkap, terperinci dan sempurna bagi kehidupan manusia tanpa memandang ras, status sosial, geografis maupun era zaman. Secara umum, nilai ajaran Islam dapat dipetakan ke dalam tiga klasifikasi utama, yaitu konsep iman (‘Aqidah), konsep Islam (Syari’ah) dan konsep Tasawwuf (Ihsan).

Hadits di atas mengandung tiga konsep besar yang memiliki aplikasi integral dalam pengamalannya, baik dalam asas berupa ‘aqidah, prosedur berupa syari’ah dan tata nilai penjiwaan berupa ihsan. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa apabila seorang muslim yang menjalankan ketiga grand concept di atas secara parsial, maka keIslaman muslim tersebut belumlah sempurna sebagaimana yang diharapkan oleh Allah SWT dan RasulNya. Mereka yang beritikad (‘aqidah) saja tanpa mengindahkan pelaksanaan prosedur aplikatif agama (syari’ah) yang ada, maka ia disebut sebagai zindiq . Dan sebaliknya mereka yang berIslam tanpa ber’aqidah dan berakhlak dengan benar, maka digolongkan sebagai kaum yang fasik.
Ekonomi sendiri yang didefenisikan sebagai suatu usaha manusia di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, adalah suatu bidang kehidupan yang mendapatkan porsi pembahasan yang serius di dalam ajaran Islam. Sebagian Ulama dan akademisi muslim banyak yang menyebut-nyebut defenisi ekonomi Islam yang mencakup konsep, prosedur teknis dan aplikasinya ini dengan istilah al-iqtiṣadi. Patut difahami, bahwa banyak sekali perintah ibadah di dalam ajaran Islam yang membutuhkan materi duniawi di dalam aplikasinya, dalam hal ini misalnya adalah haji, zakat, infaq dan ṣodaqoh serta lainnya. Perintah-perintah ibadah māliyyah tersebut pada kelanjutannya akan menunjukkan bahwasanya Islam sangat menekankan produktivitas hidup kepada setiap pemeluknya. Produktivitas hidup dapat tercermin dari keseimbangan hidup seorang muslim di dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya (hawa’ij), baik yang bersifat duniawi (ma’isyah) maupun ukhrawiyyah.

Berangkat dari konsep-konsep di atas maka sangat wajar apabila kemudian ajaran Islam sangat menekankan arti pentingnya bekerja bagi umatnya, baik bagi kepentingan dunia maupun akhiratnya. Mafhum mukhalafah dari konsep bekerja (produktivitas) di atas menunjukkan bahwa ajaran Islam sangat mencela sikap bermalas-malasan, pengangguran, suka meminta-minta (mengemis), sifat boros dan foya-foya serta pola hidup yang glamour. Dengan mekanisme sistem nilai ini, Islam mengatur kemaslahatan aktivitas ekonomi umatnya.
Dewasa ini para ekonom muslim memetakan permasalahan ekonomi (al-iqtiṣadi) ke dalam beberapa katagori, baik yang bersifat laten maupun derivatif akibat tidak konsistennya umat Islam di dalam mengaplikasikan tuntunan ajaran Islam mengenai disiplin al-iqtiṣadi ini. Mannan (1997) selanjutnya menuturkan bahwa di samping pemetaan masalah ekonomi, para praktisi al-iqtiṣadi juga dituntut untuk mengkonsep ulang sejumlah asas al-iqtiṣadi seperti defenisi nilai dalam ekonomi, pembagian kerja, sistem harga dan konsep harga yang adil, kekuatan permintaan dan penawaran, konsumsi dan produksi, pertambahan penduduk, pengeluaran dan perpajakan pemerintah, peran negara dalam ekonomi, lintas perdagangan, monopoli, pengendalian harga, pendapatan dan pengeluaran dan lain sebagainya. Tugas penting para al-iqtiṣadi lainnya yang tidak kalah penting adalah meramu dan mendamaikan pemikiran yang telah digulirkan oleh para Ulama semenjak masa lampau hingga saat ini. Dalam lintas historisnya ekonomi Islam banyak diwarnai ide-ide klasik sebagai peletak dasar tata nilai al-iqtiṣadi seperti Abu Dzar al-Gifari (w. 654), Abu Yusuf (731-798), Ibn Hazm (w. 1064) Al-Gazali (1059-1111) dan Al-Farabi (950). Juga pada masa selanjutnya seperti Yahya Ibn Adam (w. 818), El Hariri (1054-1122), Tusi (1201-1274), Ibn Taimiyyah (1262-1328), Ibn Khaldun (1332-1406), Shah Waliullah (1702-1763) .

Ekonomi Islam

iB & Diskursus Ekonomi

Galeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s