Ekonomi Islam

ANALISIS KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF SEBAGAI SALAH SATU ALAT UKUR KESEHATAN BANK


A. Arti dan fungsi Perbankan
Sebagai lembaga keuangan, bank memiliki usaha pokok berupa menghimpun dana yang (sementara) tidak dipergunakan untuk kemudian menyalurkan kembali dana tersebut ke dalam masyarakat untuk jangka waktu tertentu. Fungsi untuk mencari dan selanjutnya menghimpun dana dalam bentuk simpanan (deposit) sangat menentukan pertumbuhan suatu bank, sebab volume dana yang dapat dikembangkan oleh bank tersebut dalam bentuk pemberian kredit, pembelian efekefek atau surat berharga dalam pasar uang.

Abdurrachman dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan dan perdagangan menjelaskan bahwa, “bank adalah suatu jenis lembaga keuangan yang melaksanakan berbagai macam jasa, seperti memberikan pinjaman, mengedarkan mata uang, pengawasan terhadap mata uang, bertindak sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga, membiayai usaha perusahaan-perusahaan dan lain-lain”.
Definisi bank menurut UU No. 14/1967 Pasal 1 tentang Pokok-Pokok Perbankan adalah “lenbaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang”, dan pengertian bank menurut UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, yaitu : bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Untuk memelihara kesinambungan Pembangunan Nasional guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan UUD ’45, pelaksanaan pembangunan ekonomi harus lebih memperhatikan keserasian, keselarasan dan keseimbangan unsur-unsur Trilogi Pembangunan
Disamping itu perbankan berazaskan demokrasi ekonomi dengan fungsi utamanya sebagai penghimpun dan penyalur dana dari masyarakat, memiliki peranan yang strategis untuk menunjang pelaksanaan Pembangunan Nasional, dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak.
Disamping fungsi utamanya menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, dan menunjang Pembangunan nasional, bank juga mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut :
1. Menertbitkan surat pengakuan hutang.
2. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri ataupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya.
3. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan nasabah.
4. Menempatkan, meminjam, atau meminjamkan dana kepada bank lain.
5. Menerima pembayaran dari tagihan atas dasar surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.
6. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan UU dan Peraturan yang berlaku.

Reed, Cotter, Gill, Smith dalam buku Commercial Banking, mengatakan bahwa perbankan khususnya bank-bank komersil (bank umum) mempunyai beberapa fungsi,diantaranya adalah pemberian jasa-jasa yang semakin luas, meliputi pelayanan dalam mekanisme pembayaran (transper of funds), menerima tabungan, memberikan kredit, pelayanan dalam fasilitas pembiayaan perdagangan luar negeri, penyimpanan barang-barang berharga, dan trust services (jasa-jasa yang diberikan dalam bentuk pengamanan pengawasan harta milik). Fungsi yang terakhir ini dilaksanakan dengan membentuk suatu trust departemen yang secara umum berfungsi sebagai berikut :
! Bertindak sebagai pelaksana (executor) dalam pengaturan dan pengawasan harta
benda/milik perorangan yang telah meninggal dunia, sepanjang orang tersebut
membuat surat wasiat dan menyerahkan/ mempercayakan pelaksanaanya
kepada bank.
! Trust departement memberikan berbagai macam jasa kepada perusahaanperusahaan,
seperti pelaksanaan rencana-rencana pensiun dan pembagian
keuntungan yang tumbuh dengan pesat akhir-akhir ini.
! Bertindak sebagai wali dalam hubungan dengan penerbitan obligasi, dan sebagai
transper agents serta pendaftaran untuk perusahaan-perusahaan.
! Mengurus/mengelola dana-dana yang dikumpulkan oleh pemerintah, perusahaan
dari sumber (sinking funds) dan kegiatan-kegiatan lain sehubungan dengan
penerbitan dan penebusan saham-saham dan obligasi.
B. Arti Dan Pentingnya Aktiva Produktif
Sebagai lembaga pemberi jasa-jasa keuangan dalam lalu lintas pembayaran, maka bank memberikan berbagai fasilitas kepada nasabah, Loanable funds dari bank terbesar diberikan dalam bentuk fasilitas kredit. Akan tetapi, sebagian dana itu disisihkan dalam bentuk penanaman lain, yaitu surat-surat berharga, penempatan dana pada bank lain dan penyertaan modal bank pada lembaga keuangan yang bukan bentuk bank atau perusahaan lain.
Aktiva yang produktif atau productive assets sering juga disebut dengan earning assets atau aktiva yang menghasilkan, karena penempatan dana bank tersebut diatas adalah untuk mencapai tingkat penghasilan yang diharapkan.
Aktiva produktip adalah penaman bank dalam bentuk kredit, surat berharga, penyertaan dan penanaman laiinya yang dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan.
Pengelolaan aktiva produktip adalah bagian dari assets management yang juga mengatur tentang cash reserve (liquidity assets) dan fixed assets (aktiva tetap dan inventaris). Ada empat macam aktiva produktif atau aktiva yang menghasilkan (earning assets), yaitu :
a. Kredit yang diberikan
b. Surat-surat berharga
c. Penempatan dana pada bank lain
d. Penyertaan
Keempat jenis aktiva diatas kesemuanya menggunakan loanable funds atau excess reserve sehingga dengan memperhatikan bahwa sumber dana terbesar untuk penempatan aktiva itu adalah berasal dari dana pihak ketiga dan pinjaman, maka resiko yang mungkin timbul atas penempatan/alokasi dan tersebut harus diikuti dan diamati terus melalui analisis-analisis resiko.
Semua dalam usaha menanamkan dana tersebut mengundang resiko dimana tidak terbayar kembali atas kredit yang telah diberikan. Sementara itu penanaman dalam bentuk kredit merupakan bagian terbesar dari aktiva operasional dan aktiva secara keseluruhan. Karena itu pengamatan dan analisis tentang bagaimana kualitas dari aktiva produktif harus dilakukan terus menerus.

Kredit menjadi sumber pendapatan dan keuntungan bank yang terbesar. Disamping itu kredit juga merupakan jenis kegiatan penanaman dana yang sering menjadi penyebab utama bank menghadapi masalah besar. Maka tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa usaha bank sangat dipengaruhi oleh keberhasilan mereka mengelola kredit. Usaha bank yang berhasil mengelola kreditnya akan berkembang, sedangkan usaha bank yang selalu dirong-rong kredit bermasalah akan mundur.
C. Penggolongan Kolektibiltas Kredit
Tingkat kesehatan bank merupakan hal terpenting yang harus diusahakan oleh manjemen bank, selanjutnya pengelola bank diharuskan memantau keadaan kualitas aktiva produtif yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatannya.
Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif didasarkan pada tingkat kolektibilitasnya. Penggolongan kolektibilitas aktiva produktif sampai sejauh ini hanya terbatas pada kredit yang diberikan. Ukuran utamanya adalah ketepatan pembayaran kembali pokok dan bunga serta kemampuan debitur baik ditinjau dari usaha maupun nilai agunan kredit yang bersangkutan.
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/267/KEP/DIR, tanggal 27 Pebruari 1998 tentang kualitas aktiva produktif dan pembentukan cadangan, ditetapkan 5 (lima) golongan kolektibilitas kredit, yaitu :
Lancar (pass), Perhatian Khusus (Special Mention), Kurang Lancar (Sub Standard), Diragukan (doubtful), dan Macet (loss), dengan kriteria sebagai berikut :
1. Lancar (pass)
a. Kredit dengan angsuran pokok, dimana tidak terdapat tunggakan angsuran
pokok, tunggakan bunga, atau cerukan karena penarikan kredit.
b. Kredit dengan angsuran untuk KPR
1. Tidak tedapat tunggakan angsuran pokok, atau
2. Terdapat tunggakan angsuran pokok tetapi belum melampaui 1 bulan
c. Kredit tanpa angsuran atau kredit rekening koran, dimana kredit belum jatuh tempo, dan tidak terdapat tunggakan bunga.
2. Perhatian Khusus (special mention)
1. Terdapat tunggakan angsuran pokok, dan belum melampaui 3 bulan, baik kredit yang ditetapkan masa angsurannya bulanan
2. Terdapat tunggakan bunga belum melampaui 3 bulan, bagi kredit yang masa
angsurannya bulanan.
3. Terdapat cerukan karena penarikan, tetapi jangka waktunya belum melampaui
15 hari kerja.
4. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur : atau
5. Dokumen pinjaman lemah.
3. Kurang Lancar ( sub standard)
a. Kredit dengan angsuran di luar KPR, terdapat tunggakan pokok yang :
! Melampaui 1 bulan dan belum melampaui 2 bulan bagi kredit masa
angsurannya kurang 1 bulan, atau
! Melampaui 3 bulan dan belum melampaui 6 bulan bagi kredit yang masa
angsurannya ditetapkan bulanan, dua bulanan, dan tiga bulanan, atau
! Terdapat cerukan akibat penarikan yang jangka waktunya telah melampaui
15 hari kerja tetapi belum melampaui 30 hari kerja.
b. Kredit dengan angsuran utuk KPR terdapat tunggakan angsuran pokok yang
telah melampaui 4 bulan tetapi belum melampaui 4 bulan tetapi belum
melampaui 6 bulan
c. Kredit tanpa angsuran, terdapat tunggakan bunga yang melampaui 4 bulan
tetapi belum melalmui 6 bulan
D. Tatacara Penilaian Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Berdasarlkan SK Direksi Bank Indonesia NO. 23/81/KEP/DIR tanggal 28Pebruari 1991, jo SE Direksi Bank Indonesia NO. 26/ 22/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1993, jo SK Direksi Bank Indonesia No. 30/ 267/KEP/DIR tanggal 27 Pebruari 1998, tentang Kualitas Aktiva Produktif dan Pembentukan Cadangan, dijelaskan bahwa formula untuk memberikan penilaian atas Kualitas Aktiva Produktif yang hal kredit dan memiliki tingkat produktifitas dalam menghasilkan suatu pendapatan bagi bank yaitu bunga.
Terdapat 5 (lima) komponen dalam perhitungan meliputi :
Kolektibilitas Kredit :
1. Lancar X 0% = Rp.
2. Perhatian Khusus X 25% = Rp.
3. Kurang Lancar X 50% = Rp.
4. Diragukan X 75% = Rp.
5. Kredit Macet X 100% =
Jumlah Aktiva Dikllasifikasikan Rp.
Kemudian dicari rasionya dengan membandingkan hasil aktiva yang diklasifikasikan dengan seluruh outstanding dikali 100%.
Jumlah Aktiva Diklasifikasikan x 100 %
Total Outstanding
Untuk memasukan nilai KAP, masukan rasio di atas ke dalam formula sebagai
berikut :
KAP = 15.5 – rasio x 1
0, 15
Adapun kriteria kesehatan dikelompokan dalam 4 (empat) macam, yaitu :
No. Nilai KAP Predikat
01. 82 < Nilai < 103, 33 Sehat
02. 66 < Nilai < 81 Cukup Sehat
03. 51 < Nilai < 65 Kurang Sehat
04. < 50 Tidak Sehat
Sumber : SK Direksi Bank Indonesia No. 30 / 267 / KEP / DIR tanggal 27 Pebruari 1998
E. Kriteria Dalam Menilai Tingkat Kesehatan Bank
Pada Paket kebijaksanaan tanggal 29 Mei 1996 (Pakmei’ 96) dan berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 26/23/KEP/DIR dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/5/BPPP, dijelaskan tentang tatacara penilaian kesehatan bank, dimana tolak ukur penilaian keehatan bank bertumpu pada dua hal, yaitu :
1. Tolak ukur bagi manajemen bank untuk menilai apakah pengelolaan bank telah dilakukan sejalan dengan azas-azas perbankan yang sehat sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
2. Tolak ukur untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank, baik secara individual maupun perbankan secara keseluruhan.
Sementara menurut penilaian Bank Indonesia, kriteria bank yang sehat itu harus memenuhi tiga faktor, yaitu :
1. Dapat memelihara kepentingan masyarakat dengan baik
2. Berkembang secara wajar
3. Bermanfaat bagi perekonomian Indonesia
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang cara penilaian tingkat kesehatan Bank Umum, pasal 2 dijelaskan bahwa :
! Tingkat kesehatan bank pada dasarnya dinilai dengan pendekatan kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank.
! Pendekatan kualitatif sebagaimana dimaksud diatas dilakukan dengan penilaian terhadap faktor-faktor seperti; permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditas.
Faktor-faktor yang dinilai seperti yang dijelaskan di atas dikenal dengan istilah CAMEL (capital, asset, manajemen, rentabilitas, dan likuiditas ) adalah sebagai berikut :
1. Capital (permodalan)
Penilaian terhadap faktor permodalan didasarkan pada rasio modal terhadap Aktiva Terimbang Menurut Resiko (ATMR). Sedangkan penilaian terhadap Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bank ditetapkan sebagai berikut :
a. Pemenuhan KPMM sebesar 8% diberi predikat “sehat” dengan nilai kredit 81, dan untuk setiap kenaikan 0, 1% dari pemenuhan KPMM sebesar 8% nilai kredit ditambah 1 hingga maksimal 100.
b. Pemenuhan KPMM kurang dari 8% sampai dengan 7,9% diberi predikat “kurang sehat” dengan nilai kredit 65 dan untuk setiap penurunan 0, 1% dari pemenuhan KPMM sebesar 7, 9% nilai kredit dikurangi 1 dengan minimal 0.
2. Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Penilaian terhadap KAP didasarkan atas 2 (dua) rasio, yaitu :
a. Rasio aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva produktif sebesar 15,5% atau lebih diberi nilai kredit 0, dan untuk setiap penurunan 0,15% mulai dari 15,5% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
b. Rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk oleh Bank terhadap penyisihan aktiva produktif yang dibentuk oleh Bank sebesar 0% diberi nilai kredit 0 dan untuk setiap kenaikan 1% dimulai dari 0, nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100.
3. Manajemen
Penilaian terhadap manajemen mencakup 2 (dua) komponen, yaitu manajemen umum dan manajemen resiko, dengan menggunakan daftardaftar pertanyaan.
4. Rentabilitas
Penilaian terhadap faktor rentabilitas didasarkan pada 2 (dua) rasio, yaitu :
a. Rasio laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap rata-rata volume usaha dalam periode yang sama.
b. Rasio biaya operasional dalam 12 bulan terakhir terhadap pendapatan operasional dalam periode yang sama.
5. Likuiditas
Rasio untuk penilaian likuiditas dibagi atas 2 (dua ), yaitu :
a. Rasio kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancar dalam rupiah.
b. Rasio kredit terhadap dana yang diterima oleh Bank dalam rupiah dan valas.
Atas dasar faktor-faktor yang dinilai, diperoleh nilai gabungan. Nilai gabungan setelah dikurangi dengan nilai kredit diperoleh hasil penilaian tingkat kesehatan.
Sedangkan tingkat kesehatan ditetapkan dalam 4 (empat) golongan predikat sebagai berikut :
Nomor Nilai Kredit Predikat
01 81 < Kr < 100 Sehat
02 66 < Kr < 81 Cukup Sehat
03 51 < Kr < 66 Kurang sehat
04 Kr < 51 Tidak Sehat
Untuk lebih jelasnya faktor dan komponen pada penjelasan di atas diberikan bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan bank seperti pada tabel berikut :
Tabel 1
Faktor-faktor Yang Dinilai dan Pembobotannya
Nomor
Urut
FaktorFaktor
Yang Dinilai
Komponen Bobot
01 Permodalan Rasio modal terhadap aktiva terimbang menurut rasio 25 %
02 Kualitas Aktiva Produktif
! Rasio aktiva produktip yang
diklasifikasikan terhadap
aktiva produktif.
! Rasio penyisihan
penghapusan aktiva
produktip yang dibentuk
terhadap penyisihan
penghapusan aktiva
produktif yang wajin
dibentuk.
25%
03 Manajemen ! Manajemen umum
! Manajemen resiko
10%
04 Rentabilitas ! Rasio laba terhadap ratarata
volume usaha
! Rasio biaya operasional
terhadap pendapatan
5%
operasional.
05 Likuiditas ! Rasio kewajiban bersih call
money terhadap lancar
dalam rupiah.
! Rasio kredit terhadap dana
yang diterima oleh bank
dalam rupiah & valas.
5%
Jumlah 100%

2. Manajemen aktiva dan Pasiva
Pengertian :
Asset Liability Committee (ALCO) merupakan suatu bentuk komite atau badan yang melaksanakan tugas pengelolaan aktiva dan pasiva.
Secara umum komite ini berhadapan dengan permasalahan :
a. Penghimpunan dana, yang mempertimbangkan aspek :
• Biaya administrasif
• Biaya bunga
• Strategi
• Diversifikasi
• Jangka waktu dan likuiditas
• Portofolio dan kaitannya dengan penggunaan dana
b. Penggunaan dana, yang mempertimbangkan aspek :
• Likuiditas dan jangka waktu
• Risiko
• Rate Of Return
• Biaya bunga
• Diversifikasi
• Portofolio dan kaitannya dengan penghimpunan dana

Pendekatan Dasar Pengelolaan Aktiva Pasiva

a. Pool of Funds
Memperlakukan dana sebagai dana tunggal tanpa memperhitungkan sifat masing-masing komponen pembentuk dana. Dana tunggal kemudian dialokasikan untuk berbagai macam tujuan sesuai dengan strategi penggunaan dana.
b. Asset Allocation atau conversation of Funds
Merupakan kebalikan dari Pool Of funds, bahwa masing-masing sumber dana memiliki sifat tersendiri, sehingga pengalokasiannya harus secara individual dengan mempertimbangkan karakteristik masing-masing sumber dana.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Kamus Perbankan, Institut Bankir Indonesia, Jakarta 1998.
, Manajemen Dana, Bahan Pendidikan Calon Staff Muda BTN,
Institut Bankir Indonesia, Jakarta 1998.
, Kumpulan Surat Edaran Direksi PT. BTN (Perser), Biro Hukum
dan Hubungan Perusahaan BTN, Jakarta, 1998.
, Alur Kerja Back Office Bank BTN, Divisi Penelitian dan
Pengembangan Bank BTN, Jakarta, 1996.
, Sejarah Perkembangan Bank BTN, Divisi Penelitian dan
Pengembangan Bank BTN, Jakarta, 1998.
Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Khusus akuntansi Perbankan Indonesia,
IAI, Jakarta, 1992.
Latumaerissa Julius R, Mengenal Aspek-aspek Operasional Bank Umum,
Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 1993.
Sinungan Muchdarsyah, Manajemen Dana Bank, Edisi Kedua, Penerbit Bumi
Aksara, Jakarta, 1993.
Sutojo Siswanto, Manajemen Terapan Bank, Pustaka Binaman Pressindo,
Jakarta, 1997.
Suyatno, dkk, Kelembagaan Perbankan, Edisi Kedua, Penerbit STIE Perbanas
dan PT. Gramedia Pustaka Utama, edidi Kedua, Jakarta, 1997
Winarto Surachmat, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar, Metode, Teknik,
Tarsito, Bandung, 1982

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s