Rimbo Bujang

Syiiran di Langgar: Telaah dan Refleksi


Wacana Globalisasi yang disebar cepat melalui media komunikasi cetak dan elektronik, yang begitu cepat melanda pemikiran masyarakat di dunia ketiga — termasuk di Indonesia — telah menghegemoni nilai-nilai kebenaran atas nama universalisme. Hegemoni ciptaan Kapitalisme Global itu tidak saja memonopoli aspek ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dan ideologi melainkan mencakup pula aspek sosial, budaya, seni, dan sastra yang ditandai oleh tergesernya berbagai unsur budaya tradisional beserta nilai-nilainya, digantikan produk budaya global, bahkan dalam hal pembentukan wacana dan pembacaan jati diri.

Fakta tentang hegemoni wacana global ini, setidaknya terlihat pada perubahan sikap, perilaku dan citarasa warga bangsa Indonesia terhadap norma-norma, ide-ide, gagasan-gagasan, konsep-konsep, dan nilai-nilai warisan leluhur yang adiluhung. Dalam kehidupan sehari-hari, misal, istilah-istilah baku yang secara tradisional digunakan dalam hubungan keluarga dan kerabat seperti “ibu, bapak, paman, bibi, embah kakung, eyang putri” telah berubah menjadi “mama, papa, daddy, mummy, om, tante, opa, oma” yang dianggap lebih superior dan modern. Lalu nama-nama tradisional seperti “Bambang, Joko, Supardi, Suparman, Rahayu, Endang, Poniti, Painem, Wagisah, Leginem” dengan cepat berganti menjadi “Farel, Marvel, Johny, Armando, Adelia, Christina, Ceilla, Cornelia.” Kebiasaan anak untuk bersalaman dan mencium tangan orang tua diganti tradisi global “cipika-cipiki” (cium pipi kanan cium pipi kiri).

Pemahaman warga muda bangsa terhadap produk seni budaya peninggalan leluhur seperti ‘wayang purwa, wayang orang, wayang klithik, ketoprak, ludruk, kentrung, jatilan, tari topeng, jaran kepang, reog, bantengan, sholawatan’ sudah dipinggirkan diganti seni budaya global : ‘band, orkestra, dancing, karaoke, capoera, cabaret, teater’. Dongeng anak-anak tradisional seperti “Timun Emas, Joko Kendil, Sawunggaling, Si Kancil, Sangkuriang, Roro Jonggrang” tak dikenal lagi, digantikan dongeng global seperti “Avatar, Naruto, Marsupilamy, Sinchan, Popeye, Tom & Jerry, Mickey Mouse.”

Dalam selera makan dan minum, terjadi perubahan signifikan dari selera tradisional yang dinilai rendah ke selera global yang bergengsi. Menu tradisional seperti “pecel, tumpang, sayur asam, rawon, gudeg, mangut, soto, tiwul, gethuk, cenil, geplak, nagasari, onde-onde, wajit, jadah, lemper, ronde, bandrek, kopi tubruk, angsle, kolak, dawet, tuak, badek, legen” dianggap mewakili selera kalangan grass-root yang rendah dan kampung, sehingga harus diganti menu global yang modern dan elitis seperti “Hamburger, Hot Dog, Pizza, Spaghetti, Fried Chicken, Donat, Beefsteak, Kebab, Soup, Brownies, Spikoe, Rolade, Coke, Root Beer, Cappuccino, Moccaccino, Beer, Wishkey, Vodka, Wine, Gin.” Fenomena ini mengenai pula tempat-tempat berjualan tradisional seperti “kedai, warung, lepau, lapak, rombong, gerobak keliling, toko peracangan, pasar krempyeng” yang digantikan tempat berjualan global yang lebih keren seperti “Cafe, Resto, Bar, Minimarket, Mall, Plaza, Night Club, Boutique, Counter, Outlet, Distro”.

Terjadinya perubahan sosial dan budaya masyarakat Indonesia ini, terjadi pula pada dunia sastra. Sastra Indonesia yang sebelumnya mengenal beragam bentuk seperti puisi, pantun, gurindam, syair, wiracarita, roman, cerpen, prosa lirik, novel direduksi sedemikian rupa hanya menjadi novel dan puisi. Bahkan puisi pun, makin lama makin merana karena kehilangan penggemar.

* * *

Jean Baudrillard dalam In The Shadow of the Silent Majorities (1983) mengemukakan bahwa di dalam konteks ekonomi global yang mengarah ke pasar bebas, akan terjadi keterbukaan dan transparansi di mana setiap individu memiliki hak untuk berspekulasi dan mencari keuntungan di dalam ekonomi, di mana jaringan ekonomi global semacam itu dapat dimasuki oleh apa saja, siapa saja, di mana saja dan kapan saja bahkan oleh berbagai lapisan masyarakat global yang anonym dan invisible, yang dapat berbuat apa pun sesuai keinginan mereka. Fenomena ini, juga terjadi dalam konteks seni budaya yang ditandai oleh meluasnya kecenderungan budaya kontemporer yang terbuka dan transparan, di mana wacana seni kontemporer adalah hilangnya dimensi ruhaninya; ibarat sebatang tubuh telah kehilangan dimensi seksualnya; informasi telah kehilangan dimensi maknanya; karya seni telah kehilangan dimensi auranya. Wacana seni, menceburkan diri ke hutan rimba perkembangan makna-makna tanpa batas, dengan menghancrukan esensi makna itu sendiri, dengan menggali sisi ekstrimnya, mengekspose dimensi ekstasi, kecabulan, dan imortalitasnya. Estetika, kini, tidak lagi membedakan mana yang indah dan mana yang jelek; mana yang moralis dan mana yang amoral; mana yang kelihatan dan mana yang tersembunyi; seni kontemporer justru menggali yang terjelek dari yang jelek (Baudrillard, 1990).

Tidak bisa diingkari, bahwa di era global ini, kita hanya tercengang menyaksikan fenomena mengalirnya produk-produk komoditas (termasuk produk seni budaya) dari satu tempat ke tempat lain, yang mendorong terjadinya fenomena liberalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian kita, ada yang memaknai era ini sebagai “zaman edan”, di mana nilai-nilai saling berjungkir-balik satu sama lain sebagaimana disebut Frederich Nietzsche (1993) dengan istilah “umwertung aller werte”. Dan kejungkir-balikan nilai-nilai dalam suatu transvaluasi itu, sudah digambarkan di dalam Serat Centini buku 1 bab 73 yang berbunyi:

“Nawang krida kang menangi jaman gemblung, iya zaman edan, ewuh aja ing pambudi, yen melua edan yekti nora tahan, yen tak melu anglakoni wus tartamtu boja kadumanan, milik kaling dunya iki, satemahe kaliren temahanira.. wus dilalah karsane kang among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.”

Gambaran tentang “jaman edan” ini, melukiskan suatu rentang waktu di mana konsep-konsep, pandangan-pandangan, ide-ide, gagasan-gagasan, dan nilai-nilai umum telah berubah dalam suatu transvaluasi yang sangat ekstrim . Atas nama globalisasi, era di mana kita hidup sekarang ini ditandai oleh keterbukaan dan kebebasan di segala aspek, baik kebebasan ekonomi yang mengacu kepada ekonomi pasar bebas, kebebasan komunikasi lewat cyberspace, kebebasan seni dalam menganut nilai-nilai. Seni kontemporer di era global, mengikuti kaidah-kaidah global tentang sebuah tatanan masyarakat bersifat trans-nasional yang tidak dibatasi ras, suku, budaya, bahasa, teritorial negara, agama.

Globalisasi seperti pernah dilontarkan Ketua PP. Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafi’i Ma’arif adalah laksana kereta api yang akan melibas apa saja yang ada di depannya, lalu meninggalkan kerusakan dan rosokan. Bagi yang ingin selamat harus minggir atau ikut dalam gerbong kereta. Kemajuan teknologi informasi dengan dampak negatifnya, tanpa disadari telah mengkonstruk cara pandang masyarakat, yang kehilangan norma-norma, yang dalam pandangan Emile Durkheim disebut anomie.

* * *

Di tengah hiruk seni kontemporer yang mereduksi nilai-nilai moral hanya menjadi sekedar tontonan berjiwa hedonis, seni dekaden, kesyahwatan, menyeruak sebuah karya sastra lisan anonim yang digemari masyarakat dari lapisan pengamen sampai selebritis. Karya sastra lisan anonim tersebut dikenal dengan judul “tombo ati”, yang isinya sebagai berikut:

Tombo ati iku limo perkarane,

kaping pisan moco Qur’an sak maknane,

kapindhone sholat wengi lakonono,

kaping telu wong kang sholeh kumpulono,

kaping pate dzikir wengi ingkang suwe,

kaping limo kudu weteng ingkang luwe.

Sopo bisa salah sijine ngelakoni,

Insya Allah, Gusti Allah nyembadani.

Sastra lisan anonim ini begitu populer sampai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dinyanyikan oleh sejumlah penyanyi terkenal. Kemunculan sastra lisan anonim ini menunjuk bahwa di tengah menguatnya pengaruh global, masyarakat Indonesia masih menyimpan di alam bawah sadarnya kerinduan pada hal-hal yang bersifat spiritual yang masih tersembunyi di dalam khazanah budaya tradisional.

Istilah “sastra lisan” di dalam bahasa Indonesia adalah terjemahan bahasa Inggris oral literature. Menurut Finnegan (1977), meski istilah ‘sastra lisan’ bisa diterima, tetapi di dalamnya mengandung kontradiksi sebab kata literature, merujuk pada pengertian tulisan atau buku (Wellek, 1956). Oleh karena pengertian seperti ini, di Indonesia perhatian terhadap ‘sastra tidak tertulis’ sangat kurang atau bahkan diabaikan. Sastra lisan kemudian dihubungkan dengan folklore karena dianggap memenuhi definisi folklore: “folklore adalah kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat (mnemonic device) (Dananjaya, 1984).

Lepas dari pandangan teoritik para pakar sastra, fakta yang berkaitan dengan keberlangsungan pewarisan tradisi lisan (oral tradition), dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim tradisional di Indonesia. Di pesantren-pesantren hufadz al-qur’an, misal, kita bisa mendapati bagaimana Kitab Suci Al-Qur’an diajarkan dalam bentuk hafalan, tentu dengan metode dan teknik menghafal yang tak diragukan lagi efektivitasnya dari zaman ke zaman. Di pesantren-pesantren salaf, metode hafalan masih digunakan untuk mata pelajaran nahwu, sharaf, balagha, ushul fiqih, aqidah dan akhlaq. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim tradisional, metode hafalan digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan amaliah tradisi keagamaan seperti Yasinan, Tahlilan, Khasidah Diba’iyyah, Khasidah Burdah, Istighotsah, Wirid, Si’iran, dsb.

Dalam konteks membincang sastra lisan sebagai tradisi tidak tertulis yang potensial dikembangkan sebagai produk budaya lokal yang telah menjadi kekayaan nasional, si’iran sangat relevan dijadikan sebagai pokok bahasan. Di dalam ‘tradisi lisan’ yang berkembang di kalangan muslim tradisional, si’iran dikenal dengan istilah “pujian” yang bermakna “puji-pujian yang dinyanyikan orang-orang di langgar (mushola) saat menunggu imam memulai shalat berjama’ah, di mana selama menunggu imam puji-pujian dinyanyikan oleh semua orang yang ada di dalam langgar. Isi dan irama si’iran dihafal hanya berdasar kebiasaan seseorang mendengar orang lain menyanyikan si’iran, dalam arti tidak ada proses pembelajaran khusus untuk menghafal isi dan irama si’iran. Isi si’iran bisa berbahasa Arab dan yang terbanyak berbahasa Jawa.

Meski si’iran disebut dengan istilah “pujian”, namun tema yang diangkat dalam sebuah si’iran tidak selalu berisi puji-pujian kepada Tuhan dan Nabi Muhammad Saw. Sebagian si’iran berisi tema-tema yang berkaitan dengan pelajaran akidah, baik yang menyinggung tentang rukun Iman, rukun Islam, anjuran mendirikan shalat, ingat kematian, kehidupan akhirat, kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan, dsb. Isi si’iran yang berkait dengan pelajaran rukun iman, misal, adalah sebagai berikut:

“Amantu billahi,

wal malaaikatihi,

wa kutubihi,

wa rusulihi,

wal yaumil akhiri,

wabil qodri khoirihi,

wa syariihi minallahi ta’ala.”

Si’iran berbahasa Arab di atas mengikuti aturan sebagai berikut: (1) terdiri dari tujuh baris; (2) empat baris terdiri dari dua kata bersuara akhir: i; (3) dua baris berikut terdiri dari tiga kata bersuara akhir: i; (4) satu baris terakhir terdiri dari empat kata bersuara akhir: a. Dari si’iran ini, diketahui bahwa rukun iman di dalam Agama Islam terdiri dari enam, yaitu: (1) percaya kepada Allah; (2) percaya kepada malaikat-Nya; (3) percaya kepada kitab suci-Nya; (4) percaya kepada rasul-Nya; (5) percaya kepada hari akhir; (6) percaya bahwa takdir baik dan buruk berasal dari Allah.

Yang menarik dari si’iran-si’iran yang ada, bagian terbesar temanya berupa anjuran untuk menjalankan ibadah shalat menyembah Tuhan. Ini menunjukkan bahwa penggubah si’iran adalah ‘ulama berlatar syariat yang menganggap shalat sebagai bagian integral dari Ke-Islam-an orang seorang, di mana shalat dimaknai sebagai tiang agama sebagaimana Sabda Rasulullah Saw: As-shalaatu imaduddin, faqod aqomaha faqod hadamaddin (shalat adalah tiang agama, siapa yang menegakkan sama dengan mendirikan agama, dan siapa yang meninggalkannya sama dengan merobohkannya).

Si’iran bertema anjuran shalat, disampaikan dalam berbagai versi. Pertama, anjuran mendirikan shalat dengan memberikan peringatan berupa gambaran tentang bakal datangnya kematian yang pasti dialami setiap manusia, di mana saat mati seseorang akan tinggal sendirian di dalam kuburan yang mengerikan. Kedua, anjuran mendirikan shalat dengan memberikan perumpamaan berupa gambaran keberadaan tokoh-tokoh besar dan shaleh yang dianugerahi kemuliaan namun tetap ta’at menjalankan shalat. Ketiga, anjuran mendirikan shalat disampaikan dengan memberikan perumpamaan tentang besarnya pahala yang akan diterima maupun ancaman jika meninggalkannya. Keempat, anjuran mendirikan shalat disampaikan dengan memberikan paparan tentang kerugian berat di akhirat bagi yang tidak shalat.

Dari keempat versi si’iran yang bertema anjuran mendirikan shalat, disampaikan dalam bahasa yang lugas, sederhana, fleksibel, dengan istilah sehari-hari sehingga mudah difahami dan dihafal masyarakat. Versi si’iran yang berisi anjuran shalat yang disampaikan dengan memberikan gambaran tentang bakal datangnya kematian yang pasti dialami oleh setiap manusia, adalah sebagai berikut:

“Poro sederek kita sedoyo,

jaler estri enom lan tuwo,

mumpung urip ning alam dunyo,

wektu shalat podho ilingo.

Ilingono yen tompo timbalan,

timbalane ora nganggo wakilan,

wakilane kang moho kuwoso,

yen gak gelem bakal dipekso.

Jujugane omah ing guwo,

tanpo bantal tanpo keloso,

omahe gak ono lawange,

turu ijen gak ono rewange.

Ditutupi anjang-anjang,

diurugi disiram kembang,

poro tonggo podho nyambang,

podho nangis koyo wong nembang.”

Di samping memberikan gambaran dan perumpamaan, si’iran bersifat anjuran juga disampaikan melalui sindiran-sindiran berupa memperbandingkan keta’atan tokoh-tokoh besar yang rendah hati, yang meski dianugerahi kelebihan dan kemuliaan oleh Tuhan namun tetap tekun menjalankan ibadah shalat menyembah Yang Mahakuasa. Si’iran seperti itu, dapat kita temukan pada si’iran yang dikenal dengan judul “eman temen” yang disampaikan dalam bahasa Jawa, sebagai berikut :

“Eman temen wong ganteng ora sembahyang,

Nabi Yusuf ganteng yo tetep sembahyang.

Eman temen wong ayu ora sembahyang,

Siti Fatimah ayu yo tetep sembahyang.

Eman temen wong sugih ora sembahyang,

Nabi Sulaiman sugih yo tetep sembahyang.

Eman temen wong miskin ora sembahyang,

Nabi Ayub miskin yo tetep sembahyang.”

Si’iran di atas memiliki aturan sebagai berikut: (1) terdiri dari delapan baris yang terbagi dalam dua baris tiap bait; (2) masing-masing baris terdiri dari enam suku kata; (3) baris pertama sampai baris ke delapan bersuara akhir: ang.

Versi si’iran yang disampaikan dengan memberi perumpamaan tentang besarnya pahala bagi amaliah shalat atau terhadap mengerikannya siksa akhirat, disampaikan dengan didahului bacaan shalawat. Contoh si’iran semacam itu adalah, sebagai berikut:

“Allahumma sholi ‘ala Muhammad,

Yaa Robbi sholi alaihi wa salim.

Muslimin muslimat monggo jama’ah shalat,

ganjaranipun pitu likur derajat,

kangge sangune benjang dinten kiamat,

supados slamet saking sikso malaikat.”

Si’iran di atas memiliki aturan sebagai berikut: (1) terdiri dari enam baris dalam satu bait; (2) baris pertama dan kedua berbahasa Arab, baris pertama terdiri dari empat suku kata, baris kedua terdiri dari enam suku kata; (3) baris pertama bersuara akhir: ad; baris kedua bersuara akhir: im; baris ketiga sampai baris keenam yang berbahasa Jawa bersuara akhir: at. Si’iran ini menunjuk bahwa penggubahnya lebih menguasai persajakan dalam bahasa Jawa daripada bahasa Arab.

Versi si’iran yang disampaikan dengan memberikan gambaran tentang kerugian besar di akhirat bagi yang meninggalkan shalat, contohnya sebagai berikut:

“Cilik-cilik diwuruk ngaji,

yen wis gede supoyo aji,

yen wis aji iso belani,

agomo Islam kang diridhani.

Agomo Islam Agomo suci,

wong gak sembahyang bakale rugi,

rugi donya ora dadi opo,

rugi akhirat bakal ciloko.”

Berdasar uraian di muka, dapat disimpulkan bahwa di tengah hiruk seni budaya kontemporer sebagai konsekuensi logis dari meluasnya pengaruh globalisasi, yang ditandai dengan tenggelamnya identitas seni budaya nasional, sastra lisan si’iran yang masih dikembangkan masyarakat di langgar-langgar tradisional akan tetap bertahan. Hal itu, tentu, berkaitan dengan azas kebutuhan para pendukung si’iran selama belum mendapatkan bentuk baru dari sastra lisan yang dianggap cocok menggantikan si’iran. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, si’iran yang dalam penelitian digolongkan sebagai bahan bercorak bukan cerita yang dikategorikan nyanyian (songs) atau ungkapan (folk speech) bersemangat keagamaan itu, dikembangkan secara optimal sebagai komoditas yang mampu bersaing dengan komoditas lain di pasar global, mengingat sebaran muslim tradisional di berbagai belahan dunia cukup signifikan.

Ditulis Oleh: Imam Sunyoto

Standar

2 thoughts on “Syiiran di Langgar: Telaah dan Refleksi

  1. tulisannya bagus mas, saya setuju, gali terus puji-pujian langgar atau musholla, kelihatannya sepele, tapi makna yang dikandung sangat dalam, sebagian orang menganggap bid’ah, tapi yang punya anggapan bid’ah, tak bisa kasih jalan keluar buat anak muda yang suka seni islami sekaligus tuntunan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s