Tak Berkategori

Sejarah Pasar Sarinah Rimbo Bujang


Pasar Sarinah Rimbo Bujang, Muaratebo, dikenal sebagai pasar modern perdagangan yang paling besar di Kabupaten Tebo saat ini. Sebelum menjadi Pasar Sarinah yang mulai begaya modern, dahulu, letak Pasar Sarinah tidak berada di posisi yang sekarang. Bagaimana sejarah Pasar Sarinah?

Pasar Sarinah diambil dari lirik lagu keroncong, di Kabupaten Tebo, tidak ada yang tidak tahu Pasar Sarinah. Sebab, pasar yang terletak di KelurahanWirotho Agung Kecamatan Rimbo Bujang ini,  merupakan sentral penjualan berbagai jenis kebutuhan warga baik lokal.

Sebelum menjadi pasar yang sangat ramai dan mulai bergaya modern, dahulu ,letak Pasar Sarinah tidak berada di posisi sekarang. Tahun 70-an saat kondisi ekonomi belum maju seperti saat ini, lokasi pasar berada di samping dan depan masjid utama Kecamatan Rimbo Bujang, yaitu Masjid Al-Huda. Namanya pun bukan Pasar Sarinah, tapi Pasar Klewer.

Hal itu juga dibenarkan Lurah Wirotho Agung Sujariyo. “Sebelum pasar pindah lokasi ke tempat yang sekarang, nama pasar dahulu bukan Pasar Sarinah melainkan Pasar Klewer. Kenapa? Karena di masa dahulu ketika lokasi pasar masih berada di samping dan depan Masjid Al-Huda, para pedagang mendirikan lapaknya hanya dengan menggunakan terpal kecil dan compang-camping,” kata lurah.

Dikisahkan lurah, pada masa sebelumnya, kondisi perdagangan pasar tidak seperti sekarang, pedagang menjual dagangannya tidak setiap hari melainkan setiap minggu. Dengan kondisi pasar yang terlihat semrawut dan hanya beratapkan terpal yang tidak utuh dan menjuntai ke bawah, warga kemudian menamakan pasar menjadi Pasar Klewer hinggga sekitar tahun80-an. “Seiring dengan berjalannya waktu dan majunya perekonomian masyarakat Rimbo Bujang, pasar mulai bergeser ke tempat sekarang,” kisah lurah.

Dijelaskannya lagi, ada tiga nama yang mencetuskan nama Pasar Sarinah, yakni, Minto pejabat lurah pertama, Waris dan Murtono. Pasar Sarinah diambil dari salah satu kata lirik lagu dari penyanyi keroncong yang sangat ngetren pada saat itu yaitu, Waljinah. Tidak tahu mengapa ketiga orang tersebut mendapatkan inspirasi nama pasar dari lirik lagu Waljinah yang intinya masyarakat akan selalu ingat dengan Pasar Sarinah. “Mereka bertiga kemudian sepakat dan mematenkan nama pasar dari Pasar Klewer berubah menjadi Pasar Sarinah hingga sekarang,” jelasnya.

Sejak saat itu, kondisi pasar semakin maju, para pedagang dari luar daerah mulai berdatangan masuk ke Pasar Sarinah. Dahulu, Pasar Sarinah hanya memiliki los-los dengan menggunakan kayu. Tapi sekarang, pasar membentuk tiga los panjang dengan dinding bata dan beratap genteng.

Pasar Sarinah juga pernah beberapa kali mengalami kebakaran, yang pertama pada tahun 1989, pasar terbakar di bagian tengah. Tahun 1998 pasar kembali terbakar kali ini terjadi di bagian depan, kemudian yang ketiga terjadi pada tahun 2000 yang juga menghanguskan pasar bagian depan. “Pasar ini sudah tiga kali mengalami kebakaran,” kata Jariyo, tua tengganai setempat.

Akhir tahun 2000, bangunan baru pun dibangun untuk mengakomodir para pedagang yang selalu bertambah setiap tahunnya. Dari konsep pasar tradisional pun, Pasar Sarinah telah berubah menjadi pasar modern. Sejak tahun 2001 hingga sekarang, perkembangan pasar semakin pesat, ruko-ruko tiga lantai dan jejeran kios mulai memenuhi kompleks Pasar Sarinah. Dagangan yang dijual juga mulai lengkap dan modern. Hingga sekarang, Pasar Sarinah menjadi sentral transaksi perdagangan berbagai jenis kebutuhan.

Sumber: Harian Jambi

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s